Signal and Noise: Media, Infrastructure, and Urban Culture in Nigeria

image ©dukeunipress.edu

image ©dukeunipress.edu

Larkin, B. (2008). Signal and noise: Media, infrastructure, and urban culture in Nigeria. Durham; London: Duke University Press. 313 pages.

The rise of Nigerian media, especially the cinema, is not something that came suddenly from the sky. It was a long and winding road of the media to become something significant, not only in Nigeria but also on the African continent. However, there are only a few explanations about how the media evolution happened in this area of the world. Brian Larkin, through his book Signal and Noise: Media, Infrastructure, and Urban Culture in Nigeria (2008), explores how society reacts to the media as something sublime, and in return they are also evolving alongside with the media. Using ethnography, Larkin’s description is very detailed in portraying the media as a controversial issue at its first arrival, and how it influences the society in dealing with modernity.

Larkin arranged his book into seven chapters. At first, he discusses about the colonial’s role in introducing the media to Nigeria, then moves on to the radio, cinema, Nigerian films, and ends with the piracy issue. He explains the media evolution using an analogy where he describes the media transmission of the message as signal and the obstacles from the political, social, cultural and religious values as the noise. Media are also considered more as infrastructure or hardware, and the society’s values as the software. Continue reading

Advertisements

Pengantar Metode Penelitian Komunikasi

Berbicara ilmu komunikasi dalam ranah akademis, maka mau tidak mau kita berkutat dengan apa yang disebut sebagai metodologi penelitian. Untuk itu, bagi setiap kita yang mempelajari komunikasi sebagai suatu ilmu yang ilmiah dalam kajian akademik adalah suatu keharusan untuk mengenal, memahami, dan juga mampu mengaplikasikan beragam pendekatan di dalam metode penelitian komunikasi. Dengan menerapkan metode penelitian komunikasi dengan tepat maka diharapkan kita dapat lebih memahami konteks beragam fenomena komunikasi secara lebih ilmiah.

 

Mengingat sangat beragamnya pendekatan, metode, paradigma, hingga teknik penelitian komunikasi, maka ada baiknya kita mencoba untuk mengenali pelbagai variannya. Dengan mengenali berbagai tipe penelitian maka kita dapat menentukan motode atau teknik apa yang cocok untuk meneliti suatu kasus dan mana yang kiranya kurang tepat. Kecermatan dalam memiilih metode yang digunakan pada nantinya akan mempengaruhi bagaimana kualitas penelitian itu sendiri.

Continue reading

Public Sphere and the New Media (How Democratization and Political Communication in the Internet Shape the Indonesian Society)

Presented in Indonesia International Communication Conferece 2010, November 22-23

 

Communication Technology Development and the New Media

Communication always has a connection to the development of technology. Invention of the new kinds of communication technology, hardware or software, in the end will has impact to the way we communicate. The new way we communicate defined by this kind of communication technology. The public communication finally will be highly influenced by how the communication technology itself developing.

Innovation of technology at first came from human needs for any tools to help them to do something. McQuail (2000) said innovation always come and adapted from human needs for social change in the society. Any change within the society will be influencing the technology and further more in the way how communication technology adapted that change.

Indonesian society is also facing the same condition. If we can say this society gradually becoming an information society, as the consequence is any form of the communication technology development will impact the Indonesian social and political life.

If we discuss computer as one of communication technology then we cannot avoid talk about internet or new media. New media cannot be simplified into technological application for transmitting message or connected people into communication. The term of the Web 2.0 the internet becoming a phenomenon in order to shape the way of social relationship among the people who communicate using the new media. Continue reading

Berita Konflik: Suatu Kritik Peran Media sebagai Ruang Publik dan Pilar Demokrasi

(Makalah ini telah dipresentasikan pada Seminar Internasional Sebumi 3 di Fakulti Sains dan Kemanusiaan Universiti Kebangsaan Malaysia 12-13 Oktober 2010)

Latar Belakang

Belakangan ini di berbagai pemberitaan media massa marak mengangkat tentang konflik dan kekerasan. Sumber berita dalam kasus konflik ini sangat beragam. Mulai dari konflik internasional, konflik horizontal, konflik yang bersifat politis, hingga persoalan yang bersifat domestik, semuanya menjadi bahan pemberitaan yang mampu menyedot perhatian masyarakat.

Jika dilihat dari perspektif positivistik, media massa memberitakan tentang pelbagai peristiwa konflik sebagai kegiatan yang bersifat bebas nilai. Suatu peristiwa konflik terjadi di masyarakat maka sudah tugas media untuk mengangkat fakta tersebut ke dalam pemberitaan. Media hanya bekerja sebagai pelapor bahwa dalam kenyataan riil di dalam masyarakat marak terjadinya peristiwa konflik.

Dalam sudut pandang ini, fenomena pemberitaan konflik yang banyak terjadi di dalam masyarakat merupakan sebuah indikator bahwa masyarakat kita memang sangat akrab dengan konflik dan juga kekerasan. Peran media adalah untuk menyoroti peristiwa dan kemudian mengangkatnya ke publik. Maka, jika dalam berita media massa banyak dipaparkan tentang berbagai macam konflik dalam masyarakat, maka hal ini berjalan lurus dengan kondisi nyata di dalam masyarakat itu sendiri. Continue reading

Reporting Diversity Curricula Development Workshop

 

peserta workshop MDI

Media Diversity Institute London bekerjasama dengan Paramadina Foundation dan RoSi Inc. mengadakan pelatihan berjudul “Reporting Diversity Curricula Development Workshop.” Acara yang diselenggarakan selama dua hari, 11—12 November 2010 ini bertempat di Marley Signature Food, The Energy Building, SCBD Area, Jakarta.

Diikuti oleh sekitar 20 peserta dari berbagai perguruan tinggi yang memiliki program studi ataupun pengajaran jurnalisme di institusi mereka, pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan kurikulum jurnalisme yang berbasis kepada inklusivitas. Lebih fokus lagi, Media Diversity menitikberatkan kepada bagaimana mengadaptasikan kurikulum jurnalistik yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi di Indonesia agar peka terhadap isu-isu diveristas (keragaman) serta bagaimana meliput perbedaan.

Isu diversitas menjadi penting terutama terkait dengan konteks Indonesia yang memiliki keragaman hampir dalam banyak aspek, baik itu budaya, suku, ras, etnis, agama, dan seterusnya. Keragaman tadi sayangnya seringkali diabaikan oleh media massa. Dapat kita lihat secara sekilas bahwa media massa mainstream di Indonesia acap kali tidak memberikan ruang yang cukup dalam memberitakan kelompok-kelompok minoritas, dan kalaupun ada bagaimana mereka membahasakan dan membingkai keragaman tadi dirasakan tidak fair ataupun tidak adil. Continue reading

Nasionalisme Semu dalam Kabar-Kabar Kebencian

Belakangan ini media massa di Indonesia sedang gegap gempita membangkitkan semangat nasionalisme. Dan isu nasionalisme tersebut sekarang dikemas dengan bentuk pemberitaan yang agak berbeda dengan sebelumnya. Nasionalisme kini dihadirkan melalui kabar-kabar dan berita kebencian.

Jika dahulu nasionalisme ditampilkan melalui pemberitaan tentang sejarah, perlawanan terhadap penjajah dan jasa para pahlawan bangsa. Atau juga dengan mengangkat tema tentang pembangunan dan keberhasilan atau prestasi bangsa di berbagai bidang. Agaknya, media massa kita sudah jenuh mengangkat nasionalisme dari angle tersebut.

Konflik dengan Malaysia kini menjadi strategi baru media massa kita dalam membangkitkan semangat nasionalisme bangsa ini. Continue reading

Iklan sebagai Simbolisasi dan Banalitas Komunikasi Politik

Iklan dan Strategi Komunikasi Politik

©inilah.com

©inilah.com

Kampanye kini hanya akan menjadi ajang persuasi politik. Masing-masing tokoh politik akan berlomba untuk mempublikasikan dan mempromosikan diri mereka. Kemudian mereka saling mengklaim diri sebagai tokoh politik yang paling pantas untuk menjadi pemimpin bangsa ini.

Menurut Ashadi Siregar (2006) kampanye melalui media, terutama media massa hanya akan mengalirkan dana ke industri media. Bagian terbesar dan belanja kampanye digunakan untuk membeli halaman media cetak dan jam siaran media penyiaran. Kampanye kemudian dijadikan sebagai ajang pencitraan demi terpilihnya mereka dalam pemilu nanti.

Makin dekat pemilu, makin banyak iklan politik di koran dan televisi. Para elit politik menggunakan media massa sebagai alat yang paling efektif guna memperlihatkan dirinya kepada khalayak luas. Tentunya, bagi tokoh politik yang banyak uang mampu menggunakan segenap sumber dayanya untuk “jual diri” melalui iklan di media massa. Continue reading

Bicara tentang Komunikasi Massa

Bicara tentang komunikasi massa artinya bicara tentang media massa. Singkatnya, komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa. Konsep “media massa” secara sederhana dapat disebut sebagai sarana komunikasi yang ditujukan secara luas, dan dapat menjangkau hampir semua orang yang berada di wilayah tertentu atau lebih luas lagi. Media massa juga dapat merujuk kepada media yang sudah akrab dalam kehidupan masyarakat semacam surat kabar, majalah, film, radio, televisi, dan rekaman musik. Continue reading