Globalization and Citizenship: A Review

Urry, J. (1998). Globalisation and citizenship. Paper presented at World Congress of Sociology. Montreal. Retrieved from http://www.lancaster.ac.uk/fass/resources/sociology-online-papers/papers/urry-globalisation-and-citizenship.pdf

While the idea of citizenship has long been associated with the nation-state, the increasing cross-border mobilities of objects, ideas, cultures, and humans are challenging this notion. Urry (1998) in his essay argues that in today’s era of globalization, it is strikingly important to take a closer observation on how the disjuncture of state-borders, in terms of its economic, politics, as well as cultures reconfigure how the citizen perceive and practice their citizenships.

Urry explains that globalization has two distinct characteristics, which include: (1) the compression of space and time, and (2) the advancement of the machines and technologies that enable the creation of ‘global’ networks. These two amplify the flow of cross national-borders ideas, commodities, people—and to some extent beyond the countries’ ability to control.

Continue reading “Globalization and Citizenship: A Review”

Advertisements

Dangdut, Popular Culture dan Citizenship di Indonesia: Prospektif kah?

Jika pembicara pada beberapa kelas sebelumnya lebih banyak bicara tentang citizenship menggunakan pendekatan antropologis, teoritis, atau bahkan pendekatan hukum, maka Dr. Bart Barendregt menawarkan cara yang sedikit berbeda, yaitu dengan menggunakan popular culture sebagai perspektif.

Meskipun memiliki latar belakang studi antropologi, Pak Bart juga memiliki pengalaman penelitian tentang mobile media dan social media di Indonesia, juga riset tentang musik. Hal ini yang menjadikan paparan beliau tentang pendekatan popular culture dalam memahami praktik citizenship di Indonesia menjadi berbeda sekaligus menarik. Lebih tepatnya, beliau menggunakan istilah “popular culture as framing device.” Continue reading “Dangdut, Popular Culture dan Citizenship di Indonesia: Prospektif kah?”

Budaya Dalam Air Seni

Suasana di Pameran Seni Rayuan Pulau Kelapa di Galeri Ruang Rupa, Jakarta
Suasana di Pameran Seni Rayuan Pulau Kelapa di Galeri Ruang Rupa, Jakarta

Masihkah perbedaan antara budaya tinggi dan budaya rendah relevan?

Jika anda pernah mengunjungi sebuah pameran seni di galeri seni, maka anda akan disuguhkan dengan rangkaian hasil karya seni—yang merupakan artefak budaya—yang biasanya dinilai sebagai bagian dari budaya tinggi.

Misalkan saja bahwa di sana terpampang berbagai lukisan yang artistik, yang indah. Atau juga berbagai macam hasil karya fotografi atau karya instalasi yang juga dinilai artistik.

Pada zaman dahulu, yang namanya galeri seni itu adalah sebuah tempat yang “sakral” di mana hanya orang-orang tertentu yang bisa datang ke sana. Hanya warga kelas atas dan berpendidikan yang bisa hadir di sana. Oleh karenanya, mereka datang tentunya untuk menikmati berbagai karya seni yang tidak sembarangan pula. Continue reading “Budaya Dalam Air Seni”

Budaya dalam Secangkir Kopi

//www.thetechherald.com
© http://www.thetechherald.com

Anda suka minum kopi?

Suatu ketika saya pernah minum kopi. Peristiwa yang sangat biasa sepertinya. Tapi yang menjadikannya berbeda adalah saya minum kopi tersebut sekitar pukul 2.30 dini hari. Nah, warung kopi mana yang masih buka dini hari begini?

Starbucks coffee shop. Terletak di kawasan Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat. Buka 24 jam.

Untuk mendapatkan kopi di dini hari semacam ini saya harus rela membayarkan sekitar Rp. 20ribu hanya untuk secangkir kopi. Padahal kalau bikin kopi sendiri di rumah, cukup beli kopi sachet yang tidak lebih dari Rp. 300.

Lalu apa yang membedakan antara minum kopi di rumah dengan kopi di coffee shop macam Starbucks tadi? Atau mungkin juga perbedaannya dengan warkop (warung kopi). Continue reading “Budaya dalam Secangkir Kopi”

Budaya dan Fashion System

punk culture
punk culture

You are what you wear. Sadarkah kita bahwa cara kita berpakaian menentukan nilai budaya yang kita anut?

Jika anda sering berbelanja ke daerah Blok M di Jakarta Selatan, anda tentunya sering berpapasan dengan anak-anak Punk. Biasanya mereka ini suka nongkrong di jembatan penyebrangan menuju Blok M Plaza, GOR Bulungan, atau kadang kala di Terminal Blok M.

Ciri-ciri utama mereka adalah berpakaian jeans belel, dengan beberapa aksesoris rantai dan spike, dan terutama dengan cukuran rambut ala Mohawk. Mereka menganggap ciri berpakaian macam ini sebagai nilai anti kemapanan, nilai yang dianut oleh budaya Punk.

Dengan mengenakan berbagai macam aksesoris sebagaimana diyakini sebagai bagian dari budaya Punk, maka mereka mengasosiasikan diri mereka sebagai anak Punk. Mereka menjadi Punk karena berpakaian ala Punk. Identitas budaya terkonstruksikan melalui fashion mereka. Continue reading “Budaya dan Fashion System”

Film dan Representasi Budaya

Film Catatan Si Boy, Representasi Budaya Jakarta 90-an
Film Catatan Si Boy, Representasi Budaya Jakarta 90-an

Anda suka menonton film?

Film dapat dikatakan sebagai salah satu media hiburan yang paling populer, selain televisi tentunya. Menonton film, baik itu di bioskop, melalui DVD/VCD bajakan maupun yang orisinil, atau justru menonton film di televisi, telah menjadi sarana eskapasi diri yang menyenangkan.

Jika dahulu menonton film masih termasuk ke dalam suatu bentuk hiburan yang agak ekslusif, adalah benarnya. Film mulanya hanya bisa disaksikan dalam sebuah gedung yang bernama bioskop. Dan hanya kalangan tertentu saja yang mampu menonton film di tempat macam ini. Tentunya yang berduit dan mampu membeli tiket.

Sebenarnya apa sih yang menarik dari film? Lalu apa bedanya dengan saudara mudanya, televisi? Toh sama-sama menyajikan gambar idoep (sesuai dengan definisi denotatifnya). Continue reading “Film dan Representasi Budaya”

Bioskop dan Budaya

blitz
Bioskop sebagai Urban Place

Adakah hubungan antara menonton film di bioskop dengan budaya?

Dahulu kita pernah mendengar idiom bahwa kita belum bisa dibilang berbudaya jika belum pernah nonton film di bioskop. Atau bahasa awamnya, “Norak loe belum pernah ke bioskop.” Jadi, salah satu indikator berbudaya atau tidaknya seseorang dapat dilihat dari pernah atau tidak, atau sering tidaknya orang tersebut ke bioskop.

Tapi pernyataannya apakah hal tersebut kini masih relevan? Continue reading “Bioskop dan Budaya”