Reporting Diversity Curricula Development Workshop

 

peserta workshop MDI

Media Diversity Institute London bekerjasama dengan Paramadina Foundation dan RoSi Inc. mengadakan pelatihan berjudul “Reporting Diversity Curricula Development Workshop.” Acara yang diselenggarakan selama dua hari, 11—12 November 2010 ini bertempat di Marley Signature Food, The Energy Building, SCBD Area, Jakarta.

Diikuti oleh sekitar 20 peserta dari berbagai perguruan tinggi yang memiliki program studi ataupun pengajaran jurnalisme di institusi mereka, pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan kurikulum jurnalisme yang berbasis kepada inklusivitas. Lebih fokus lagi, Media Diversity menitikberatkan kepada bagaimana mengadaptasikan kurikulum jurnalistik yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi di Indonesia agar peka terhadap isu-isu diveristas (keragaman) serta bagaimana meliput perbedaan.

Isu diversitas menjadi penting terutama terkait dengan konteks Indonesia yang memiliki keragaman hampir dalam banyak aspek, baik itu budaya, suku, ras, etnis, agama, dan seterusnya. Keragaman tadi sayangnya seringkali diabaikan oleh media massa. Dapat kita lihat secara sekilas bahwa media massa mainstream di Indonesia acap kali tidak memberikan ruang yang cukup dalam memberitakan kelompok-kelompok minoritas, dan kalaupun ada bagaimana mereka membahasakan dan membingkai keragaman tadi dirasakan tidak fair ataupun tidak adil.

Perguruan tinggi dirasakan sebagai wadah yang tepat untuk membangun kesadaran dan kepekaan terhadap isu deversitas tersebut. Ketika para mahasiswa didik untuk menjadi (calon) jurnalis, maka harapannya adalah ketika mereka telah meninggalkan bangku kuliah dan masuk ke dalam dunia kerja yang sesungguhnya di media massa mereka akan mampu mengimplementasikan pemahaman tersebut. Lebih lanjut, ketika mereka menulis, membuat reportase atau membuat produk jurnalistik lainnya yang terkait dengan isu keragaman tadi maka mereka akan lebih adil dan fair dalam melihat kelompok yang lain.

Dengan alasan seperti di atas, maka pelatihan ini dimaksudkan untuk mencoba menyusun sebuah kurikulum yang nanti kiranya akan dapat diimplementasikan dalam pengajaran yang dilakukan di perguruan tinggi. Milica Pesic, Executive Director Media Diveristy Institute menyebutkan bahwa program seperti ini setidaknya sudah mereka lakukan di tujuh negara yang berbeda, dengan harapan bahwa nantinya akan muncul semacam kesadaran global dalam melihat dan meliput isu keragaman di media massa. Kali ini, pemikiran tersebut coba diimplementasikan dalam kurikulum jurnalistik di pendidikan tinggi di Indonesia.

Acara yang dipandu oleh Dr. Ade Armando dari Paramadina Foundation ini diawali dengan narasi dari Nezar Patria sebagai Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Nezar bercerita tentang bagaimana kondisi umum media massa di Indonesia terutama terkait dalam pemberitaan tentang isu keragaman. Pandangannya secara umum media kita belum banyak berpihak kepada isu ini ataupun dalam memberitakan secara fair karena seringkali jurnalis mengabaikan “keputusan etis” dalam melakukan reportase. Persoalan ini juga diperparah dengan kondisi newsroom yang seringkali mengabaikan keputusan etis tadi karena lebih mengedepankan soal oplah, rating, atau dinamika kerja newsroom yang menuntut untuk bekerja cepat demi menyajikan berita yang paling up-date.

Dilanjutkan dengan sesi perkenalan dari masing-masing peserta. Mereka diminta untuk menceritakan bagaimana perkembangan pelaksanaan pendidikan jurnalistik di perguruan tinggi masing-masing. Selain itu, peserta diminta untuk memberikan gambaran bagaimana kira-kira proyeksi pelaksanaan kurikulum jurnalistik berbasis isu keragaman ini nantinya untuk diterapkan di institusi mereka. Peserta sendiri antara lain berasal dari Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran Bandung, Universitas Islam Negeri Jakarta, Universitas Paramadina, London School of Public Relations, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Multimedia Nusantara, Al-Azhar Indonesia, Mercubuana, dan lain sebagainya.

Dr Verica Rupar dari Cardiff University memberikan pandangannya kemudian. Menurutnya apa yang sudah dijalankan oleh sejumlah perguruan tinggi tersebut sudah cukup baik. Akan tetapi, untuk menerapkan kurikulum berbasis diversitas ini tidak dapat secara mentah-mentah diterapkan. Artinya, perlu juga melihat bagaimana kondisi di lapangan apakah sekiranya isu diversitas tersebut akan mengalami resistensi ataukah tidak. Selain itu, kurikulum tersebut juga dapat dilaksanakan secara gradual karena memang hal semacam ini dirasakan tidak mudah dan memang butuh waktu.

Hari kedua dimulai dengan presentasi dari Dr Roza Tsagarousianou. Roza adalah dosen di Westminster University dan selama ini melakukan riset tentang framing pemberitaan di Inggris dan Eropa tentang kaum minoritas. Berangkat dari hasil riset tersebut, Roza mengembangkan dan menerapkan kurikulum berbasis kesadaran akan keragaman di tempat dia mengajar.

Sesi selanjutnya materi disampaikan oleh Richard Cookson dari University of the West England. Richard memulai dengan semacam role-play. Dari permainan ini Richard memperlihatkan bagaimana stereotype kita tentang kaum minoritas atau etnis tertentu akan sangat mempengaruhi penilaian kita tentang mereka. Penilaian ini nantinya akan mempengaruhi bagaimana pandangan personal seorang jurnalis yang akan menjadikan pemberitaan mereka menjadi bias. Lebih buruk dari itu, stereotype personal akan menjadi sebuah berita yang dipublikasikan kepada banyak orang melalui media massa.

Setelah mendapatkan pemaparan tentang model kurikulum jurnalistik yang berbasis keragaman dari pemateri, tiap peserta dibagi ke dalam kelompok guna menyusun model mereka sendiri. Diskusi kelompok kemudian menghasilkan proposal atau rancangan kurikulum mata kuliah jurnalistik yang berlandaskan diversitas. Presentasi dari masing-masing kelompok berjalan secara dinamis disertai dengan komentar dan masukan dari pemateri ataupun kelompok lainnya.

Pelatihan diakhiri dengan pandangan umum dari pemateri maupun dari penyelenggara. Pihak media Diversity Institute sendiri mengundang tiap peserta untuk memfollow-up rancangan kurikulumnya masing-masing. Jika memang bersedia untuk dilanjutkan dan jika memang applicable maka diharapkan kurikulum tersebut dapat dilaksanakan secara konkret di masing-masing perguruan tinggi.

Jakarta, 11—12 November 2010

One thought on “Reporting Diversity Curricula Development Workshop

  1. yah baru baca setelah setengah semester. but it’s never too late😀
    “Mereka diminta untuk menceritakan bagaimana perkembangan pelaksanaan pendidikan jurnalistik di perguruan tinggi masing-masing.” Kalau boleh tahu, apa yg bapak ceritakan tentang perkembangan pelaksanaan jurnalistik di Untirta?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s