Some Current Fascination on April 2008

Listening:

Sore, Ports of Lima

Reading:

Seno Gumira Ajidarma, Kisah Mata

Watching:

An Evening with Duran Duran, Plenarry Hall JCC

Sore, Ports of Lima Album Launch, Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) Jakarta

Sungsang Lebam Telak live show at AKSARA Book Store Kemang

The Radio Dept

Eldorado, Lembang  Bandung

Visiting:

Glosarium Photoexhibition, Galeri Foto Jurnalistik ANTARA

Advertisements

Teori Retorika Aristoteles

Aristoteles
Aristoteles

Aristoteles adalah murid Plato, filsuf terkenal dari zaman Yunani Kuno. Kala itu, di Yunani dikenal Kaum Sophie yang mengajarkan cara berbicara atau berorasi kepada orang-orang awam, pengacara, serta para politisi. Plato sendiri banyak menyindir perilaku Kaum Sophie ini karena menurutnya orasi yang mereka ajarkan itu miskin teori, dan terkesan dangkal.

Aristoteles berpendapat bahwa retorika itu sendiri sebenarnya bersifat netral. Maksudnya adalah orator itu sendiri bisa memiliki tujuan yang mulia atau justru hanya menyebarkan omongan yang gombal atau bahkan dusta belaka. Menurutnya, “…by using these justly one would do the greatest good, and unjustly, the greatest harm” (1991: 35). Aristoteles masih percaya bahwa moralitas adalah yang paling utama dalam retorika. Akan tetapi dia juga menyatakan bahwa retorika adalah seni. Retorika yang sukses adalah yang mampu memenuhi dua unsur, yaitu kebijaksanaan (wisdom) dan kemampuan dalam mengolah kata-kata (eloquence).

Rethoric, salah satu karya terbesar Aristoteles, banyak dilihat sebagai studi tentang psikologi khalayak yang sangat bagus. Aristoteles dinilai mampu membawa retorika menjadi sebuah ilmu, dengan cara secara sistematis menyelidiki efek dari pembicara, orasi, serta audiensnya. Orator sendiri dilihat oleh Aristoteles sebagai orang yang menggunakan pengetahuannya sebagai seni. Jadi, orasi atau retorika adalah seni berorasi. Continue reading “Teori Retorika Aristoteles”

Nilai UTS Etika Filsafat Komunikasi Non Reguler

NAMA

UTS

eva hutri sinaga

78.0

assiddah fil haq

76.0

annisarizki

74.0

ronny yuhdi septa

74.0

edi sudrajat

74.0

reni fitriani

65.0

syarip hidayatullah

60.0

willy pratama

80.0

yuniar nur hikmah

72.0

a ruri alfiansah

76.0

dewi emas gayoni

65.0

gina dede permana

72.0

putri chintia

65.0

lesta yunissa

65.0

retno kartika

75.0

noflita nasri

76.0

ema selvina

80.0

titian munggaran

74.0

fadly molana

74.0

ginanjar hadi

78.0

inggi nais

75.0

rangga eka putra

75.0

lanang suprayogi

75.0

rahmad sri prayogo

72.0

dian nurmalasari

75.0

diki prihadi

60.0

jarudi

60.0

deni mujani

55.0

novan try

55.0

Nilai UTS Etika Filsafat Komunikasi Kelas Reguler

NAMA

UTS

mukhamad faizal s

70.0

desy ratna s

72.0

mona safitri

75.0

nadjela amaly

75.0

agga dananjaya

70.0

risa azizah imaniar

90.0

dwi yunita anggraini

72.0

vanny septiani

74.0

dian wahyu pratama

74.0

lia susanti

74.0

mariza umri

72.0

widayati wulansari

75.0

reni tri arini

72.0

riefny setiani putri

75.0

oktarina tri m

78.0

sufyanto

70.0

danti wardianti

77.0

lilis nurlailah

80.0

sefty aryani p

90.0

dian nasida

73.0

ria mahdia fitri

87.0

erwan setiawan

73.0

firman ardiansyah

40.0

uce latihah

76.0

Mendefinisikan Teori Komunikasi

Theories are maps of reality. Teori adalah peta dari kenyataan atau realitas. Ibarat kita sedang memasuki sebuah kawasan yang belum kita ketahui, maka kita memerlukan sebuah peta guna menghindari kemungkinan untuk tersesat di jalan. Secara sederhana itulah manfaat sebuah teori. Teori adalah sebuah panduan guna menapaki sebuah perjalanan, dalam hal ini perjalanan kita dalam mendalami ilmu komunikasi.

Teori adalah pilar utama ilmu pengetahuan. Melalui teori, ilmu komunikasi menjadi terus hidup, dan terus berkembang, dalam sebuah siklus sirkuler yang terus menerus.

Teori menciptakan pertanyaan atau permasalahan tentang suatu realitas. Dari suatu permasalahan kemudian memicu terjadinya berbagai macam penelitian atau observasi untuk mencari suatu jawaban dari pertanyaan atau permasalahan tersebut. Hasil dari observasi atau penelitian pada akhirnya mencetuskan suatu teori, yang pada nantinya teori ini dapat mengembangkan ilmu itu sendiri, dibantah, digugurkan, atau menciptakan berbagai pertanyaan atau permasalahan keilmuan yang lainnya. Continue reading “Mendefinisikan Teori Komunikasi”

Mathematical Theory of Shannon & Weaver

Claude Shannon
Claude Shannon

Karya Shannon dan Weaver, Mathematical Theory of Communication (1949), adalah salah satu pelopor teori komunikasi, dan juga dianggap sebagai salah satu teori komunikasi yang tertua. Teori ini juga salah satu contoh yang paling jelas dari Mahzab Proses, yaitu aliran yang melihat komunikasi sebagai transmisi pesan.

Fokus utama teori ini adalah untuk menentukan cara di mana saluran (channel) komunikasi dapat digunakan secara efisien. Bagi mereka, saluran utamanya adalah kabel telepon dan gelombang radio. Mereka mencetuskan teori yang memungkinkan mereka mendekati masalah bagaimana mengirim sejumlah informasi yang maksimum melalui saluran yang ada, dan bagaimana mengukur kapasitas dari suatu saluran yang ada untuk membawa informasi. Mereka menggunakan asumsi bahwa komunikasi antar manusia (human communication) itu ibarat hubungan melalui telepon dan gelombang radio. Continue reading “Mathematical Theory of Shannon & Weaver”

Teori Adaptif Strukturasi

“Anggota dalam sebuah kelompok menciptakan kelompok tersebut sebagaimana mereka berinteraksi di dalamnya… Seringkali orang-orang yang berada di dalam kelompok membuat struktur atau aturan yang membuat mereka merasa sangat tidak nyaman berada i dalamnya, akan tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka sendiri yang mencipatakan hal tersebut. Tujuan utama teori strukturasi adalah untuk menyadarkan merka akan aturan dan sumber daya yang mereka gunakan sehingga mereka akan mampu memiliki kontrol terhadap apa-apa yang mereka lakukan di dalam kelompok tersebut.”

Dalam komunikasi kelompok, Scott Poole berpendapat bahwa kita memiliki dua kemungkinan: apakah kita diatur oleh struktur kelompok tersebut ataukah kita memiliki kekebasan yang tak terbatas sebagai individu di dalam sebuah kelompok. Continue reading “Teori Adaptif Strukturasi”