Cultivation Theory

Berapa kemungkinan Anda akan menjadi korban peristiwa kejahatan atau kriminalitas dalam waktu seminggu ke depan? Apakah 1: 10, 1: 100, atau 1: 1000 ? Menurut George Gerbner jawaban tersebut akan bergantung kepada seberapa sering Anda menonton televisi.

Menurut Dekan Annenberg School for Communication Universitas Pennsylvania dan juga pendiri Cultural

George Gerbner

George Gerbner

Environment Movement ini, para penonton televisi yang masuk dalam kategori penonton berat (heavy viewers) cenderung memiliki keyakinan bahwa dunia ini adalah dunia yang kejam dan menakutkan (mean and scary world). Kekekarasan yang mereka saksikan dalam layar kaca televisi dapat menjadikan penonton tersebut terjebak dalam paranoia yang menjadikan mereka selalu merasa tidak aman dan tidak percaya kepada orang-orang di sekitar mereka.

Sependapat dengan Marshal McLuhan, Gerbner berpendapat bahwa televisi memiliki kekuatan yang dominan dalam membentuk masyarakat modern. Akan tetapi tidak seperti McLuhan yang melihat medium sebagai pesan, Gerbner meyakini bahwa kekuatan televisi muncul dari isi tayangan televisi itu sendiri yang dilihat sebagai real-life drama yang muncul setiap saat, berjam-jam setiap harinya. Sebagai hasilnya, televisi dimaknai sebagai storyteller dalam kehidupan masyarakat. Dalam bahasa lain, televisi dilihat mampu menggambarkan apa-apa yang ada, penting, dan benar-benar terjadi, dalam masyarakat kita.

Konsekuensinya adalah, ketika media seringkali menayangkan tayangan yang berisikan kekerasan (violence) maka Gerbenr melihat adanya korelasi yang kuat antara media dan kekerasan itu sendiri. Media massa, terutama televisi berepran besar dalam menciptakan ketakutan dalam benak penontonnya terhadap kekerasan.

Gerbner beranggapan bahwa televisi kita penuh dengan apa yang disebutnya sebagai dramatic violence. Dalam definisinya dramatic violence disebut sebagai “the overt expression of physical force (with or without a weapon, against self or other) compelling action against one’s will on pain of being hurt and/or killed or threathened to be so victimized as part of the plot.”

Definisi tersebut mencakup kata-kata kasar, merendahkan, dan mengancam. Yang ini tentunya banyak tersajikan dalam tayangan sinetron yang tiap hari menghiasi layar televisi kita. Bahkan kekerasan fisik juga seringkali ditemukan dalam berbagai macam tayangan kartun seperti Tom and Jerry, Naruto, dan sejenisnya. Ketika semua tayangan yang berisikan kekerasan tersebut lebih didramatisir lagi, menurut Gerbner pada nantinya akan menyebabkan efek traumatik dalam benak penontonnya.

Lebih dari dua dekade, banyak penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa banyak acara prime-time yang berisikan tayangan kekerasan tadi. Bahkan juga pada tayangan untuk anak di hari sabtu dan minggu. Dan selama ini hingga sekarang penelitian tersebut masih menunjukkan angka yang stabil. Artinya, kekerasan masih konsisten sebagai materi dalam tayangan televisi itu sendiri.

Gerbner membedakan penonton televisi dalam dua kategori, light viewer (penonton ringan) dan heavy viewer (penonton berat). Penonton ringan adalah yang menyaksikan televisi dalam kurun waktu sekitar dua jam tiap harinya. Sedangkan yang dikategorikan sebagai penonton berat adalah yang menonton televisi lebih dari 4 jam tiap harinya. Perbedaan inilah yang akan mempengaruhi viewer behaviour itu sendiri.

Bagi penonton ringan, kecenderungannya adalah hanya menonton tayangan televisi sesuai dengan kebutuhan. Maksudnya, mereka menonton apa yang ingin ditonton saja, dan kalau merasa tidak suka atau tidak perlu dengan suatu acar televisi, maka televisi akan dimatikan. Penonton dalam kategori ini biasanya tidak mudah terpengaruh oleh isi tayangan televisi itu sendiri.

Lain lagi dengan penonton dalam kategori penonton berat. Mereka biasanya duduk di depan televisi dalam kurun waktu yang cukup lama, bahkan bisa berjam-jam tanpa peduli apakah tayangan televisi yang mereka saksikan tersebut apakah mereka suka atau mereka perlukan ataukah tidak. Mereka inilah yang biasanya paling mudah terpengaruh oleh isi tayangan televisi.

Dalam contoh tayangan kekerasan tadi, misalkan saja dalam tayangan acara kriminal semacam Buser, Patroli, TKP, Sergap, dan sejenisnya. Saat kita terbiasa atau sering menyaksikan tayangan semacam ini, asumsi yang muncul menurut Gerbner adalah kita cenderung semakin takut atau was-was terhadap dunia di sekitar kita. Kita cenderung menjadi paranoid, takut kalau-kalau diri kita akan mengalami kejahatan atau menjadi korban tindakan kriminal sebagaimana yang sering kita lihat dalam tayangan tadi.

Jika dalam tayangan kriminal tadi diceritakan maraknya kasus penodongan di bus kota, kita biasanya menjadi cukup ketar-ketir ketika hendak naik atau berada di dalam bus kota. Kita menjadi curiga terhadap tiap orang asing yang tidak kenal dalam bus tersebut. Atau jangan-jangan pengamen yang ada di bus itu adalah seorang penjahat yang siap-siap mencari kesempatan untuk menodong, dan seterusnya. Heavy viewers lebih memiliki kesempatan untuk menjadi paranoid semacam ini.

Dalam penelitiannya tentang cultivation differences, Gerbner mengamati tentang empat perilaku pentonton televisi, dalam kaitannya dengan isu tayangan kekerasan tadi.

Pertama, tentang kemungkinan keterlibatan dalam tindakan kekerasan. Survei yang dilakukan menunjukkan bahwa bagi penonton ringan, mereka hanya merasa memiliki kemungkinan 1: 100 bahwa mereka akan menjadi korban tindak kekerasan atau kriminal. Sedangkan bagi penonton berat kemungkinannya adalah 1: 10. padahal angka yang realistis berdasarkan indeks kekerasan atau indeks kriminalitas adalah hanya pada angka 1: 10.000. Jadi, bagi pentonton berat, mereka merasa lebih mungkin untuk menjadi korban tindak kekerasan atau kriminalitas daripada kemungkinan yang sebenarnya. Di sisi yang lain, anak-anak yang terbiasa menyaksikan tayangan kekerasan memiliki asumsi bahwa “tidak apa-apa jika memukul orang lain jika kita marah atau tidak suka terhadap orang tersebut.”

Kedua, takut untuk berjalan sendirian ketika malam hari. Wanita umumnya lebih takut untuk berjalan sendirian malam-malam daripada laki-laki. Akan tetapi menurut Gerbner ini lebih berhubungan dengan seberapa sering mereka menghabiskan waktu di depan televisi. Penonton berat diasumsikan lebih menganggap berlebihan terhadap peristiwa kriminalitas, dan menganggapnya sepuluh kali lebih parah atau lebih seram daripada kenyataannya. Padahal pada kenyataannya, lebih banyak orang yang terluka atau terbunuh di jalanan karena tertabrak kendaraan daripada akibat tindakan kejahatan.

Ketiga, dalam melihat aktivitas polisi. Bagi pentonton berat, mereka berasumsi bahwa 5 persen masyarakt kita pernah berurusan dengan polisi atau aparat. Sedangkan pentonton ringan hanya bersumsi 1 persen saja. Dunia dalam benak penonton berat banyak dipenuhi oleh gambaran tentang polisi, penjahat, tindakan kejahatan, dan bahwa lingkungan mereka tidak aman. Bahwa polisi selalu menodongkan senjata setiap saat.

Keempat, ketidakpercayaan terhadap orang lain. Penonton berat biasanya memiliki bawaan selalu curiga kepada orang lain, terutama orang yang asing.

Gerbner selanjutnya menjelaskan bahwa kultivasi berperan melalui dua jalan, yaitu mainstreaming dan resonance.

Mainstreaming menurut Grebner adalah proses “blurring, blending, and bending” yang mana merasuk ke dalam diri penonton berat. Menurut Gerbner, melalui terpaan yang konstan dalam tayangannya, televisi berhasil menciptakan commonality (kesamaan atau keumuman). Televisi menjadikan penontonnya bersifat homogen, yang pada nantinya menjadikan penonton (berat) merasa mereka berbagi nilai, orientasi, perspektif, dengan orang yang lain.

Apa-apa yang hadir di layar televisi menciptakan suatu yang bersifat umum, dan menjadikannya sebagai semacam pengalaman bersama. Sehingga bagi penontonnya, televisi menjadi rujukan bersama terhadap pengalaman, keyakinan, dan nilai-nilai. Televisi menjadi ibarat ‘tempat berbagi pengalaman.’

Resonance. Menurut Gerbner, penonton yang konsisten menonton tayangan televisi lebih mungkin merasakan resonance (resonansi). Pada dasarnya setiap orang pernah mengalamai atau menjadi saksi mata atas suatu tindakan kekerasan atau peristiwa kriminal, entah itu perampokan, penodongan, penjambretan, atau bahkan orang berkelahi. Mereka ini kemudian mengalami traumatik, walaupun tidak parah. Akan tetapi, televisi kemudian berperan dalam penggambaran kembali pengalaman tersebut di dalam tayangannya. Televisi menjadi semacam resonansi atau pengulangan terhadap pengalaman nyata di kehidupan si penonton tadi. Semakin sering orang tersebut menonton tayangan kekerasan maka akan semakin sering resonansi tadi dialami olehnya. Sehingga konsekuensinya kenangan atau pengalaman pertama terhadap peristiwa kekerasan atau kriminal di dunia nyata yang dulu pernah dialaminya, menjadi semakin dan terus terasa atau teringat-ingat.

Hipotesis yang diajukan oleh Gerbner dalam teori kultivasi ini adalah bahwa semakin sering masyarakat menonton televisi pada akhirnya akan menjadikan dunia ini terasa semakin menyeramkan.

Daftar Pustaka:

Griffin, Emory A., A First Look at Communication Theory, 5th edition, New York: McGraw-Hill, 2003, p.380—389

3 thoughts on “Cultivation Theory

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s