Public Sphere and the New Media (How Democratization and Political Communication in the Internet Shape the Indonesian Society)

Presented in Indonesia International Communication Conferece 2010, November 22-23

 

Communication Technology Development and the New Media

Communication always has a connection to the development of technology. Invention of the new kinds of communication technology, hardware or software, in the end will has impact to the way we communicate. The new way we communicate defined by this kind of communication technology. The public communication finally will be highly influenced by how the communication technology itself developing.

Innovation of technology at first came from human needs for any tools to help them to do something. McQuail (2000) said innovation always come and adapted from human needs for social change in the society. Any change within the society will be influencing the technology and further more in the way how communication technology adapted that change.

Indonesian society is also facing the same condition. If we can say this society gradually becoming an information society, as the consequence is any form of the communication technology development will impact the Indonesian social and political life.

If we discuss computer as one of communication technology then we cannot avoid talk about internet or new media. New media cannot be simplified into technological application for transmitting message or connected people into communication. The term of the Web 2.0 the internet becoming a phenomenon in order to shape the way of social relationship among the people who communicate using the new media. Continue reading

Advertisements

Berita Konflik: Suatu Kritik Peran Media sebagai Ruang Publik dan Pilar Demokrasi

(Makalah ini telah dipresentasikan pada Seminar Internasional Sebumi 3 di Fakulti Sains dan Kemanusiaan Universiti Kebangsaan Malaysia 12-13 Oktober 2010)

Latar Belakang

Belakangan ini di berbagai pemberitaan media massa marak mengangkat tentang konflik dan kekerasan. Sumber berita dalam kasus konflik ini sangat beragam. Mulai dari konflik internasional, konflik horizontal, konflik yang bersifat politis, hingga persoalan yang bersifat domestik, semuanya menjadi bahan pemberitaan yang mampu menyedot perhatian masyarakat.

Jika dilihat dari perspektif positivistik, media massa memberitakan tentang pelbagai peristiwa konflik sebagai kegiatan yang bersifat bebas nilai. Suatu peristiwa konflik terjadi di masyarakat maka sudah tugas media untuk mengangkat fakta tersebut ke dalam pemberitaan. Media hanya bekerja sebagai pelapor bahwa dalam kenyataan riil di dalam masyarakat marak terjadinya peristiwa konflik.

Dalam sudut pandang ini, fenomena pemberitaan konflik yang banyak terjadi di dalam masyarakat merupakan sebuah indikator bahwa masyarakat kita memang sangat akrab dengan konflik dan juga kekerasan. Peran media adalah untuk menyoroti peristiwa dan kemudian mengangkatnya ke publik. Maka, jika dalam berita media massa banyak dipaparkan tentang berbagai macam konflik dalam masyarakat, maka hal ini berjalan lurus dengan kondisi nyata di dalam masyarakat itu sendiri. Continue reading

Reporting Diversity Curricula Development Workshop

 

peserta workshop MDI

Media Diversity Institute London bekerjasama dengan Paramadina Foundation dan RoSi Inc. mengadakan pelatihan berjudul “Reporting Diversity Curricula Development Workshop.” Acara yang diselenggarakan selama dua hari, 11—12 November 2010 ini bertempat di Marley Signature Food, The Energy Building, SCBD Area, Jakarta.

Diikuti oleh sekitar 20 peserta dari berbagai perguruan tinggi yang memiliki program studi ataupun pengajaran jurnalisme di institusi mereka, pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan kurikulum jurnalisme yang berbasis kepada inklusivitas. Lebih fokus lagi, Media Diversity menitikberatkan kepada bagaimana mengadaptasikan kurikulum jurnalistik yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi di Indonesia agar peka terhadap isu-isu diveristas (keragaman) serta bagaimana meliput perbedaan.

Isu diversitas menjadi penting terutama terkait dengan konteks Indonesia yang memiliki keragaman hampir dalam banyak aspek, baik itu budaya, suku, ras, etnis, agama, dan seterusnya. Keragaman tadi sayangnya seringkali diabaikan oleh media massa. Dapat kita lihat secara sekilas bahwa media massa mainstream di Indonesia acap kali tidak memberikan ruang yang cukup dalam memberitakan kelompok-kelompok minoritas, dan kalaupun ada bagaimana mereka membahasakan dan membingkai keragaman tadi dirasakan tidak fair ataupun tidak adil. Continue reading

Nasionalisme Semu dalam Kabar-Kabar Kebencian

Belakangan ini media massa di Indonesia sedang gegap gempita membangkitkan semangat nasionalisme. Dan isu nasionalisme tersebut sekarang dikemas dengan bentuk pemberitaan yang agak berbeda dengan sebelumnya. Nasionalisme kini dihadirkan melalui kabar-kabar dan berita kebencian.

Jika dahulu nasionalisme ditampilkan melalui pemberitaan tentang sejarah, perlawanan terhadap penjajah dan jasa para pahlawan bangsa. Atau juga dengan mengangkat tema tentang pembangunan dan keberhasilan atau prestasi bangsa di berbagai bidang. Agaknya, media massa kita sudah jenuh mengangkat nasionalisme dari angle tersebut.

Konflik dengan Malaysia kini menjadi strategi baru media massa kita dalam membangkitkan semangat nasionalisme bangsa ini. Continue reading

Menulis Judul Berita

Tulisan yang pertama kali dilihat atau dibaca oleh khalayak atau publik adalah headline atau judul berita. Judul berita menjadi penting sebagai daya tarik utama dan yang pertama. Tanpa judul yang menarik jangan harap pembaca akan meneruskan untuk membaca berita yang sudah Anda buat, sebagus apapun berita tersebut.

Oleh karenanya ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan penulisan judul berita atau headline. Jacci Howard Bear menyebutkan beberapa hal tersebut sebagai berikut:

  • Ciptakan rasa penasaran

Rasa penasaran adalah daya tarik yang paling memikat. Kita cenderung ingin mengetahui sesuatu jika hal tersebut membuat kita penasaran. Prinsip yang sama berlaku pada penulisan judul berita. Semakin judul tersebut menimbulkan rasa penasaran maka kemungkinan untuk dibaca oleh khalayak juga semakin besar.

Ada kalanya judul berita yang hanya menuliskan suatu rutinitas semata cenderung akan dilewatkan begitu saja. Beda halnya jika judul menampilkan sesuatu yang tidak lazim atau sesuatu yang fenomenal. Prinsip ini sejalan dengan menciptakan judul yang mampu membangkitkan rasa penasaran tadi. Continue reading

Menulis Straight-News

Menurut Lary Kurtzman dan Dennis G. Jerz (1999) berita lempang (hard news/straight news) ditulis dengan tujuan pembaca dapat menghentikan bacaannya kapan pun dia inginkan, dan dapat melanjutkannya lagi kapan pun dia mau. Tujuan penulisan berita lempang berbeda dengan penulisan feature atau artikel yang bertujuan untuk mendorong pembaca menyelesaikan bacaannya hingga ke akhir cerita atau tulisan tersebut. Oleh karenanya, tidak perlu membuat “kesimpulan” dalam sebuah berita lempang. Pembaca berita lempang biasanya mengakhiri bacaannya ketika merasa bosan, dan cenderung tidak banyak pembaca yang menyelesaikan hingga akhir tulisan. Continue reading