Nasionalisme Semu dalam Kabar-Kabar Kebencian

Belakangan ini media massa di Indonesia sedang gegap gempita membangkitkan semangat nasionalisme. Dan isu nasionalisme tersebut sekarang dikemas dengan bentuk pemberitaan yang agak berbeda dengan sebelumnya. Nasionalisme kini dihadirkan melalui kabar-kabar dan berita kebencian.

Jika dahulu nasionalisme ditampilkan melalui pemberitaan tentang sejarah, perlawanan terhadap penjajah dan jasa para pahlawan bangsa. Atau juga dengan mengangkat tema tentang pembangunan dan keberhasilan atau prestasi bangsa di berbagai bidang. Agaknya, media massa kita sudah jenuh mengangkat nasionalisme dari angle tersebut.

Konflik dengan Malaysia kini menjadi strategi baru media massa kita dalam membangkitkan semangat nasionalisme bangsa ini.

Pemberitaan yang cukup panas adalah ketika Malaysia dikatakan oleh media massa kita mengklaim tari Pendet sebagai bagian dari budaya mereka. Berita tersebut menyoroti iklan turisme Malaysia yang menggunakan ikon tari Pendet yang notabene budaya asal Bali (Republika, 19 Agustus 2009).

Ketika hampir semua media massa di Indonesia mengangkat pemberitaan tersebut, dampaknya terasa cukup signifikan. Berbagai kecaman bahkan caci-maki terhadap peristiwa klaim tersebut tertuju kepada pihak Malaysia. Pemberitaan media massa berhasil mempengaruhi benak khalayaknya untuk ikut serta mengecam Malaysia.

Secara tidak langsung, pemberitaan semacam ini memang membangkitkan nasionalisme masyarakat kita. Masyarakat menjadi aware terhadap warisan kebudayaan nasional dan segala bentuk simbolisasi identitas bangsa. Suatu strategi yang lumayan baik jika dilihat dari perspektif ini.

Menurut Lasswell dan Wright (1975) media massa memang memiliki fungsi sebagai pengawasan lingkungan. Maksudnya, media massa berperan dalam upaya  pengumpulan  dan  penyebaran  informasi  mengenai  berbagai peristiwa yang terjadi di dalam dan di luar lingkungan suatu masyarakat. Di sini media telah melakukan peranannya sebagai kontrol sosial dalam hal pengawasan kebudayaan bangsa.

Sayangnya saya membaca hal ini lebih dari sudut pandang yang lain. Dengan membenci negara lain yang disangka oleh media massa mengambil tanpa izin ikon budaya bangsa, apakah artinya kita menjadi nasionalis? Apakah dengan mencaci-maki bangsa lain kita jadi lebih mencintai budaya bangsa sendiri? Belum tentu.

Agaknya, bukan hanya sengketa tari Pendet yang kemudian menjadi komoditi berita kebencian oleh media massa. Selanjutnya dihadirkan juga soal pelecehan lagu Indonesia Raya, kekerasan terhadap TKI di Malaysia, kontroversi asal-usul lagu kebangsaan Malaysia, bahkan isu lama seperti sengketa Sipadan-Ligitan dan sejenisnya. Ganyang Malaysia menjadi jargon usang yang kembali coba digadang-gadang oleh media.

Media massa di sini tidak lagi berperan dalam fungsi informatif. Mereka juga tidak lagi berada dalam tataran pengawasan sosial. Media telah bergeser menjadi pelaku provokasi.

Dalam kasus tari Pendet, media massa kita ternyata telah melakukan suatu kesalahan yang signifikan. Setelah sibuk beramai-ramai mengecam pihak Malaysia, ternyata justru pihak Discovery Channel yang melakukan klarifikasi bahwa mereka yang salah dalam memproduksi iklan Enigmatic Malaysia.

Sebagaimana diberitakan oleh Koran Tempo (26 Agustus 2009), Angie Santa Maria, Regional Director Asia Advertising Sale Discovery Asia, memberitahukan bahwa iklan “Enigmatic Malaysia” yang berdurasi setengah menit itu tak ada kaitannya dengan pemerintah Malaysia. Jadi, sebenarnya kasusnya bukan pengakuan tari Pendet sebagai milik Malaysia sebagaimana yang marak diumbar oleh pemberitaan media nasional.

Jurnalis kita terlalu sibuk untuk mengejar up-to-date berita sehingga mereka luput untuk melakukan verifikasi. Mereka lalai untuk melakukan konfirmasi ulang dalam detil pemberitaan. Padahal isu semacam ini adalah sensitif karena dapat menciptakan kebencian atau permusuhan dengan pihak lain.

Pemberitaan yang semacam ini sebenarnya mengingatkan tentang gaya pemberitaan yellow journalism (jurnalisme kuning). Menurut Baran dan Davis (2000) media macam ini memiliki prinsip membuat berita yang memerlukan biaya serendah mungkin. Termasuk di dalamnya reportase yang singkat dan tidak perlu mendalam karena akan memakan waktu dan biaya lebih. Peristiwa atau fakta yang disajikan seringnya didramatisir sedemikian rupa agar lebih menarik perhatian khalayak. Mereka juga memiliki perhatian yang kurang terhadap akurasi data.

Konflik memang diyakini sebagai salah satu nilai berita. Suatu fakta atau peristiwa menjadi memiliki arti atau nilai jual jika dia memiliki unsur konflik di dalamnya. Ashadi Siregar (2006) menyebutkan bahwa seluruh fakta sosial yang dilihat dari perspektif konflik, memiliki nilai tinggi dalam standar kelayakan berita (news-worthiness). Dalam kasus sengketa dengan Malaysia konflik kemudian menjadi komoditi media massa.

Shoemaker dan Reese (1996) mengingatkan bahwa kita tidak boleh menelan mentah-mentah segala bentuk pemberitaan. Media massa bukanlah cerminan dari dunia itu sendiri. Berita tidak hadir secara apa adanya di hadapan penonton atau pembacanya. Berita telah melalui serangkaian proses yang rumit, penuh kepentingan, dan ideologis, sebelum akhirnya ditayangkan di televisi atau tercetak di koran dan majalah.

Kita agaknya lupa mempertanyakan berita tersebut. Apakah benar bahwa kita sedang berkonflik dengan negara lain? Mengapa isu tersebut belakangan terus-terusan di blow-up oleh hampir semua media massa kita? Siapa yang pertama kali mengusung isu tersebut? Pihak-pihak mana saja yang diuntungkan dalam berita-berita kebencian tersebut? Apakah untungnya bagi bangsa Indonesia jika ikut-ikutan membenci bangsa lain dan kemudian mencaci-maki? Apakah hal tersebut adalah sikap dari bangsa yang cerdas?

Dalam menyajikan pemberitaan macam apapun media massa sebenarnya melakukan fungsi agenda-setting. Media memiliki agenda tertentu dalam setiap berita yang disampaikannya kepada masyarakat luas. Ageda tersebut dapat berupa kepentingan pemilik media, kekuatan politik tertentu, kepentingan bisnis, atau demi rating. Jadi, dalam sudut pandang ini maka tidak ada berita yang bersifat netral atau bebas kepentingan.

Masyarakat sebagai audiens sebaiknya tidak bersifat pasif terhadap pesan-pesan yang disampaikan media massa. Perlu kecerdasan dan menjaga sikap kritis sehingga tidak mudah tergiring oleh isu apapun yang diangkat oleh media massa. Begitu pula dalam kasus sengketa dengan Malaysia sudah sewajarnya kita tetap kritis.

Jadi, jangan sampai masyarakat menjadi korban eksploitasi media massa melalui berita-berita kebencian. Membenci negara lain tidak akan menjadikan kita lebih nasionalis.

Dalam kehidupan bermasyarakat, dalam kehidupan berbangsa yang namanya konflik adalah suatu kewajaran. Ia menjadi tidak wajar ketika konflik dijadikan komoditi pemberitaan yang justru mengajak ramai-ramai untuk membenci pihak lain. Sudah terlalu banyak berita kebencian di media massa kita.

Yearry Panji

Artikel ini dimuat dalam Kolom Wacana Publik Harian Radar Banten, edisi Selasa 1 September 2009

link bisa dilihat di sini: http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=46181

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s