Nasionalisme Semu dalam Kabar-Kabar Kebencian

Belakangan ini media massa di Indonesia sedang gegap gempita membangkitkan semangat nasionalisme. Dan isu nasionalisme tersebut sekarang dikemas dengan bentuk pemberitaan yang agak berbeda dengan sebelumnya. Nasionalisme kini dihadirkan melalui kabar-kabar dan berita kebencian.

Jika dahulu nasionalisme ditampilkan melalui pemberitaan tentang sejarah, perlawanan terhadap penjajah dan jasa para pahlawan bangsa. Atau juga dengan mengangkat tema tentang pembangunan dan keberhasilan atau prestasi bangsa di berbagai bidang. Agaknya, media massa kita sudah jenuh mengangkat nasionalisme dari angle tersebut.

Konflik dengan Malaysia kini menjadi strategi baru media massa kita dalam membangkitkan semangat nasionalisme bangsa ini. Continue reading

Advertisements

Information and the Mathematical Theory of Communication

shannon model © www.comminit.com

shannon model © http://www.comminit.com

Claude Shannon (1949) mengutarakan tentang Mathematical Theory of Communication. Teori ini memfokuskan diri pada “that of reproducing at one point either exactly or approximity a message selected at another point” (Shannon, 1949: 31). Jadi, yang menjadi penting dalam teori ini adalah soal transmisi komunikasi.

Teori Shannon pada dasarnya adalah pendekatan teknis atau matematis terhadap komunikasi. Shannon ingin menggambarkan dalam perspektif matematis bagaimana proses sebuah pesan—pesan apa pun itu—mampu terkirimkan dari komunikator kepada komunikan.

Sistem komunikasi yang ditawarkan di sini mengibaratkan kerja sebuah mesin. Dengan menggunakan analogi sebuah komputer, komunikasi manusia dianggap bekerja dengan cara kerja yang sama. Continue reading

Bicara tentang Komunikasi Massa

Bicara tentang komunikasi massa artinya bicara tentang media massa. Singkatnya, komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa. Konsep “media massa” secara sederhana dapat disebut sebagai sarana komunikasi yang ditujukan secara luas, dan dapat menjangkau hampir semua orang yang berada di wilayah tertentu atau lebih luas lagi. Media massa juga dapat merujuk kepada media yang sudah akrab dalam kehidupan masyarakat semacam surat kabar, majalah, film, radio, televisi, dan rekaman musik. Continue reading

Cultural Studies

Stuart Hall

Stuart Hall

Istilah Cultural Sudies pertama kali dipopulerkan oleh Stuart Hall professor sosiologi di Open University, Milton Keynes, Inggris. Hall mengkritik para ilmuwan komunikasi yang mayoritas menggunakan pendekatan empiris, kuantitatif, dan cenderung hanya melihat hubungan kausalitas dalam praktek komunikasimassa. Menurutnya, mereka gagal untuk melihat apa yang seharusnya menjadi penting di dalam pengaruh media massa terhadap masyarakat. Pengaruh media massa tidak dapat dilihat hanya melalui survey terhadap pembaca surat kabar, pendengar radio atau penonton televisi. Karena persoalannya ternyata lebih dari itu.

Hall sendiri banyak dipengaruhi oleh pemikiran Marxis yang melihat bahwa terdapat hubungan kekuatan atau kekuasaan dibalik praktek masyarakat, terutama dalam praktek komunikasi massa dan media massa. Hall juga mengkriitk para ilmuwan yang hanya sekedar mampu menggambarkan tentang dunia, akan tetapi tidak berusaha untuk mengubah dunia tersebut ke arah yang lebih baik. Tujuan Hall dan para ilmuwan dari Teori Kritis adalah memberdayakan dan memberikan kekuatan kepada masyarakat yang termarjinalkan atau terpinggirkan terutama dalam ranah komunikasi massa. Continue reading

Hermeneutika

Paul Ricouer

Paul Ricouer

Selama ini kita telah terbiasa mendefinisikan atau menafsirkan komunikasi dalam perspektif komunikasi sebagai transmisi. Kosakata semacam ‘sender’, ‘receiver’, ‘encode’, ‘decode’, dan ‘transmision’ mencerminkan hal tersebut. Padahal, komunikasi itu sendiri juga dapat dipahami melalui perspektif yang berbeda. Misalkan dapat kita lihat dalam kosakata semacam ‘interpretasi’, ‘pemahaman’, maupun ‘perbincangan’. Komunikasi tidak lagi dilihat sebagai transmisi ide dari benak seseorang kepada orang yang lain, melainkan bahwa komunikasi merupakan proses penciptaan makna bersama di dalam suatu alur perbincangan. Atau dalam bahasa Radford (2005: 154) disebut “the mutual creation of meaning in the flow of a living genuine conversation.” Perspektif ini disebut sebagai hermeneutika.

Continue reading

Determinisme Teknologi Marshall McLuhan

Marshal McLuhan

Marshal McLuhan

Marshall McLuhan, media-guru dari University of Toronto, pernah mengatakan bahwa the medium is the mass-age. Media adalah era massa. Maksudnya adalah bahwa saat ini kita hidup di era yang unik dalam sejarah peradaban manusia, yaitu era media massa. Terutama lagi, pada era media elektronik seperti sekarang ini. Media pada hakikatnya telah benar-benar mempengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertingkah laku manusia itu sendiri. Kita saat ini berada pada era revolusi, yaitu revolusi masyarakat menjadi massa, oleh karena kehadiran media massa tadi.

McLuhan memetakan sejarah kehidupan manusia ke dalam empat periode: a tribal age (era suku atau purba), literate age (era literal/huruf), a print age (era cetak), dan electronic age (era elektronik). Menurutnya, transisi antar periode tadi tidaklah bersifat bersifat gradual atau evolusif, akan tetapi lebih disebabkan oleh penemuan teknologi komunikasi. Continue reading

Cultivation Theory

Berapa kemungkinan Anda akan menjadi korban peristiwa kejahatan atau kriminalitas dalam waktu seminggu ke depan? Apakah 1: 10, 1: 100, atau 1: 1000 ? Menurut George Gerbner jawaban tersebut akan bergantung kepada seberapa sering Anda menonton televisi.

Menurut Dekan Annenberg School for Communication Universitas Pennsylvania dan juga pendiri Cultural

George Gerbner

George Gerbner

Environment Movement ini, para penonton televisi yang masuk dalam kategori penonton berat (heavy viewers) cenderung memiliki keyakinan bahwa dunia ini adalah dunia yang kejam dan menakutkan (mean and scary world). Kekekarasan yang mereka saksikan dalam layar kaca televisi dapat menjadikan penonton tersebut terjebak dalam paranoia yang menjadikan mereka selalu merasa tidak aman dan tidak percaya kepada orang-orang di sekitar mereka.

Sependapat dengan Marshal McLuhan, Gerbner berpendapat bahwa televisi memiliki kekuatan yang dominan dalam membentuk masyarakat modern. Akan tetapi tidak seperti McLuhan yang melihat medium sebagai pesan, Gerbner meyakini bahwa kekuatan televisi muncul dari isi tayangan televisi itu sendiri yang dilihat sebagai real-life drama yang muncul setiap saat, berjam-jam setiap harinya. Sebagai hasilnya, televisi dimaknai sebagai storyteller dalam kehidupan masyarakat. Dalam bahasa lain, televisi dilihat mampu menggambarkan apa-apa yang ada, penting, dan benar-benar terjadi, dalam masyarakat kita. Continue reading

Teori Agenda Setting

(from left) Donald Shaw, Maxwell McCombs and David Weaver

(from left) Donald Shaw, Maxwell McCombs and David Weaver

The press may not be succesful much of the time in telling people what to think, but it is stunningly succesful in telling its readers what to think about.”

Media massa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi agenda media kepada agenda publik. Teori Agenda

Setting didasari oleh asumsi demikian. Teori ini sendiri dicetuskan oleh Profesor Jurnalisme Maxwell McCombs dan Donald Shaw.

Menurut McCombs dan Shaw, “we judge as important what the media judge as important.” Kita cenderung menilai sesuatu itu penting sebagaimana media massa menganggap hal tersebut penting. Jika media massa menganggap suatu isu itu penting maka kita juga akan menganggapnya penting. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi diri kita, bahkan menjadi tidak terlihat sama sekali. Continue reading

Muted Group Theory Cheris Kramarae

Cheris Kramarae

Cheris Kramarae

Cheris Kramarae menyatakan bahwa bahasa adalah konstruksi kaum pria. Menurutnya, bahasa dalam budaya tertentu tidak memperlakukan setiap orang secara setara, dan tidak semua orang berkontribusi secara berimbang terhadap penciptaan bahasa tersebut. Wanita (dan kelompok yang tersubordinasi lainnya) tidak sebebas dan memiliki akses yang luas sebagaimana kaum pria dalam mengekspresikan apa yang mereka inginkan, kapan, dan di mana mereka menginginkannya, karena kata-kata dan nornma-norma yang digunakan pada dasarnya dibentuk oleh kelompok dominan, yaitu kaum pria itu sendiri.

Menurut Kramarae dan para Teorisi Feminisme lainnya wanita sering kali tidak diperhitungkan dalam masyarakat kita. Pemikiran kaum wanita tidak dinilai sama sekali. Dan ketika kaum wanita coba menyuarakan ketidaksetaraan ini, kontrol komunikasi yang dikuasai oleh paham maskulin cenderung tidak menguntungkan para wanita. Dan bahasa yang diciptakan oleh kaum pria “diciptakan dengan berpretensi, tidak menghargai dan meniadakan kaum wanita.” Wanita oleh karenanya menjadi kelompok yang terbungkam (muted group). Continue reading

Teori Retorika Aristoteles

Aristoteles

Aristoteles

Aristoteles adalah murid Plato, filsuf terkenal dari zaman Yunani Kuno. Kala itu, di Yunani dikenal Kaum Sophie yang mengajarkan cara berbicara atau berorasi kepada orang-orang awam, pengacara, serta para politisi. Plato sendiri banyak menyindir perilaku Kaum Sophie ini karena menurutnya orasi yang mereka ajarkan itu miskin teori, dan terkesan dangkal.

Aristoteles berpendapat bahwa retorika itu sendiri sebenarnya bersifat netral. Maksudnya adalah orator itu sendiri bisa memiliki tujuan yang mulia atau justru hanya menyebarkan omongan yang gombal atau bahkan dusta belaka. Menurutnya, “…by using these justly one would do the greatest good, and unjustly, the greatest harm” (1991: 35). Aristoteles masih percaya bahwa moralitas adalah yang paling utama dalam retorika. Akan tetapi dia juga menyatakan bahwa retorika adalah seni. Retorika yang sukses adalah yang mampu memenuhi dua unsur, yaitu kebijaksanaan (wisdom) dan kemampuan dalam mengolah kata-kata (eloquence).

Rethoric, salah satu karya terbesar Aristoteles, banyak dilihat sebagai studi tentang psikologi khalayak yang sangat bagus. Aristoteles dinilai mampu membawa retorika menjadi sebuah ilmu, dengan cara secara sistematis menyelidiki efek dari pembicara, orasi, serta audiensnya. Orator sendiri dilihat oleh Aristoteles sebagai orang yang menggunakan pengetahuannya sebagai seni. Jadi, orasi atau retorika adalah seni berorasi. Continue reading