Krisis Ilmu Komunikasi di Pendidikan Tinggi

Menempuh studi komunikasi di perguruan tinggi di Amerika Serikat mendorong saya untuk lebih dalam lagi mempelajari diskursus seputar ranah keilmuan ini. Terlebih lagi, Amerika Serikat selama ini dianggap sebagai pusatnya studi ilmu komunikasi (communication studies). Hal ini bisa dibilang lumrah dikarenakan oleh beberapa hal, semisal fakta sejarah bahwa ilmu komunikasi pertama kali secara formal dijadikan sebagai ranah keilmuan oleh kampus dan para ilmuwan di negeri ini serta fakta banyaknya universitas yang menawarkan program studi ilmu komunikasi—melebihi negara manapun di dunia saat ini.

Meskipun secara kuantitas ilmu komunikasi memang banyak dipelajari di berbagai universitas di Amerika, sayangnya ranah keilmuan ini dianggap mengalami krisis secara kualitas. Robert McChesney, analis media dan juga professor ilmu komunikasi di University of Illinois at Urbana-Champaign, dalam bukunya Communication Revolution (2007), menjelaskan bahwa ada sejumlah faktor yang menjadikan ilmu komunikasi mengalami krisis, bahkan di Amerika, negara yang disebut sebagai ‘pusat’ ilmu komunikasi. Dalam tulisan ini saya akan membahas persoalan krisis ilmu komunikasi dengan merujuk apa yang dipaparkan oleh McChesney.

Continue reading

Menatap Masa Depan Penyiaran di Indonesia: Catatan dari NAB Show 2014

Bagaimanakah kiranya gambaran industri penyiaran Indonesia 5 atau 10 tahun ke depannya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel ini akan mendiskusikan perbincangan terbaru industri media di Amerika Serikat untuk proyeksi media peyiaran di Indonesia di masa depan.

Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri sebuah ajang akbar bagi industry media di Amerika Serikat, NAB Show. NAB sendiri merupakan singkatan dari Association of National Broadcasters. Acara tahunan ini diselenggarakan di Las Vegas, 5-10 April 2014 dan dihadiri oleh hampir 100,000 peserta dari 156 negara dan menjadi salah satu rujukan tren terbaru di dunia penyiaran di Amerika. Praktisi media, pakar industry, hingga akademisi berkumpul untuk membicarakan isu kontemporer maupun perencanaan industri media.

Salah satu sesi yang paling menarik adalah obrolan dengan Gordon H. Smith, CEO sekaligus President NAB. Smith bercerita tentang industri media di Amerika saat ini, terutama kecemasannya soal masa depan industri penyiaran. Dalam tataran produksi, para praktisi teknologi komunikasi terus menerus berinovasi untuk menyediakan perangkat paling mutakhir sekaligus efisien dalam menyampaikan isi media kepada publik. Misalkan saja tentang penggunaan teknologi ultra high definition (ultra-HD) dalam produksi tayangan televisi dan konten media lainnya, dianggap banyak membantu industri media dalam meyajikan tayangan yang sangat berkualitas dari segi audio-visual. Di Amerika sendiri, pesatnya penjualan perangkat televisi dengan kualitas high definition dianggap sebagai gambaran masa depan industri penyiaran: high definition broadcasting.

Continue reading