Budaya Dalam Air Seni

Suasana di Pameran Seni Rayuan Pulau Kelapa di Galeri Ruang Rupa, Jakarta

Suasana di Pameran Seni Rayuan Pulau Kelapa di Galeri Ruang Rupa, Jakarta

Masihkah perbedaan antara budaya tinggi dan budaya rendah relevan?

Jika anda pernah mengunjungi sebuah pameran seni di galeri seni, maka anda akan disuguhkan dengan rangkaian hasil karya seni—yang merupakan artefak budaya—yang biasanya dinilai sebagai bagian dari budaya tinggi.

Misalkan saja bahwa di sana terpampang berbagai lukisan yang artistik, yang indah. Atau juga berbagai macam hasil karya fotografi atau karya instalasi yang juga dinilai artistik.

Pada zaman dahulu, yang namanya galeri seni itu adalah sebuah tempat yang “sakral” di mana hanya orang-orang tertentu yang bisa datang ke sana. Hanya warga kelas atas dan berpendidikan yang bisa hadir di sana. Oleh karenanya, mereka datang tentunya untuk menikmati berbagai karya seni yang tidak sembarangan pula. Continue reading

Budaya dalam Secangkir Kopi

Anda suka minum kopi?

Suatu ketika saya pernah minum kopi. Peristiwa yang sangat biasa sepertinya. Tapi yang menjadikannya berbeda adalah saya minum kopi tersebut sekitar pukul 2.30 dini hari. Nah, warung kopi mana yang masih buka dini hari begini?

Starbucks coffee shop. Terletak di kawasan Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat. Buka 24 jam.

Untuk mendapatkan kopi di dini hari semacam ini saya harus rela membayarkan sekitar Rp. 20ribu hanya untuk secangkir kopi. Padahal kalau bikin kopi sendiri di rumah, cukup beli kopi sachet yang tidak lebih dari Rp. 300.

Lalu apa yang membedakan antara minum kopi di rumah dengan kopi di coffee shop macam Starbucks tadi? Atau mungkin juga perbedaannya dengan warkop (warung kopi). Continue reading

Budaya dan Fashion System

punk culture

punk culture

You are what you wear. Sadarkah kita bahwa cara kita berpakaian menentukan nilai budaya yang kita anut?

Jika anda sering berbelanja ke daerah Blok M di Jakarta Selatan, anda tentunya sering berpapasan dengan anak-anak Punk. Biasanya mereka ini suka nongkrong di jembatan penyebrangan menuju Blok M Plaza, GOR Bulungan, atau kadang kala di Terminal Blok M.

Ciri-ciri utama mereka adalah berpakaian jeans belel, dengan beberapa aksesoris rantai dan spike, dan terutama dengan cukuran rambut ala Mohawk. Mereka menganggap ciri berpakaian macam ini sebagai nilai anti kemapanan, nilai yang dianut oleh budaya Punk.

Dengan mengenakan berbagai macam aksesoris sebagaimana diyakini sebagai bagian dari budaya Punk, maka mereka mengasosiasikan diri mereka sebagai anak Punk. Mereka menjadi Punk karena berpakaian ala Punk. Identitas budaya terkonstruksikan melalui fashion mereka. Continue reading

Film dan Representasi Budaya

Film Catatan Si Boy, Representasi Budaya Jakarta 90-an

Film Catatan Si Boy, Representasi Budaya Jakarta 90-an

Anda suka menonton film?

Film dapat dikatakan sebagai salah satu media hiburan yang paling populer, selain televisi tentunya. Menonton film, baik itu di bioskop, melalui DVD/VCD bajakan maupun yang orisinil, atau justru menonton film di televisi, telah menjadi sarana eskapasi diri yang menyenangkan.

Jika dahulu menonton film masih termasuk ke dalam suatu bentuk hiburan yang agak ekslusif, adalah benarnya. Film mulanya hanya bisa disaksikan dalam sebuah gedung yang bernama bioskop. Dan hanya kalangan tertentu saja yang mampu menonton film di tempat macam ini. Tentunya yang berduit dan mampu membeli tiket.

Sebenarnya apa sih yang menarik dari film? Lalu apa bedanya dengan saudara mudanya, televisi? Toh sama-sama menyajikan gambar idoep (sesuai dengan definisi denotatifnya). Continue reading