Muted Group Theory Cheris Kramarae

Cheris Kramarae

Cheris Kramarae

Cheris Kramarae menyatakan bahwa bahasa adalah konstruksi kaum pria. Menurutnya, bahasa dalam budaya tertentu tidak memperlakukan setiap orang secara setara, dan tidak semua orang berkontribusi secara berimbang terhadap penciptaan bahasa tersebut. Wanita (dan kelompok yang tersubordinasi lainnya) tidak sebebas dan memiliki akses yang luas sebagaimana kaum pria dalam mengekspresikan apa yang mereka inginkan, kapan, dan di mana mereka menginginkannya, karena kata-kata dan nornma-norma yang digunakan pada dasarnya dibentuk oleh kelompok dominan, yaitu kaum pria itu sendiri.

Menurut Kramarae dan para Teorisi Feminisme lainnya wanita sering kali tidak diperhitungkan dalam masyarakat kita. Pemikiran kaum wanita tidak dinilai sama sekali. Dan ketika kaum wanita coba menyuarakan ketidaksetaraan ini, kontrol komunikasi yang dikuasai oleh paham maskulin cenderung tidak menguntungkan para wanita. Dan bahasa yang diciptakan oleh kaum pria “diciptakan dengan berpretensi, tidak menghargai dan meniadakan kaum wanita.” Wanita oleh karenanya menjadi kelompok yang terbungkam (muted group).

Ide bahwa wanita adalah kaum yang terbungkam (muted group) pertama kali diutarakan oleh Edwin Ardener. Menurutnya, dalam banyak kajian budaya posisi dan suara kaum wanita tidak dituliskan dalam budaya tersebut. Hingga kemudian disadari bahwa keterbungkaman kaum wanita adalah karena rendahnya atau sedikitnya kekuasaan atau kekuatan yang dimiliki oleh mereka dalam hierarki kelompok mereka. Karena dengan posisi yang rendah maka mereka memiliki kesulitan ketika hendak bersuara. Menurut Ardener, “struktur yang ‘membungkam’ sebenarnya ada akan tetapi tidak disadari di dalam struktur bahasa yang dominan.” Sampai akhirnya ‘stuktur’ tersebut tidak terlihat, menjadi kasat mata.

Shirley Ardener kemudian mengingatkan bahwa muted group theory tidak melulu menggambarkan bahwa yang dimaksud dengan ‘terbungkam’ selalu berarti tidak bersuara. Kelompok yang terbungkam tidak berarti mereka tidak bersuara sama sekali atau terdiam. Yang menjadi fokus utama teori ini adalah bahwa apakah seseorang atau suatu kelompok dapat menyuarakan apa yang mereka inginkan, kapan, di mana, sekehendak mereka, ataukah mereka harus ‘mengubah pemikiran atau apa-apa yang hendak mereka suarakan tadi asalkan mereka tetap dapat diterima di lingkungan sosial.’ Ketika seseorang mengubah apa-apa yang mereka ingin katakan hanya agar tidak merasa dikucilkan oleh lingkungan sosialnya, maka orang tersebut termasuk ke dalam kelompok yang terbungkam.

Kramarae selanjutnya menambahkan bahwa bahasa pembedaan domain privat-publik juga berperan penting dalam aktivitas jender. Dalam asumsi kosakata privat-publik, wanita biasanya disadari lebih pantas atau lebih cocok untuk berada di rumah—“dunia yang kecil” dunia komunikasi interpersonal. Dunia privat ini bagaimanapun lebih kurang penting dibandingkan dengan “dunia yang luas” dunia sosial, dunia di mana suara kaum pria lebih didengar dibandingkan kaum wanita.

Dengan menempatkan kaum wanita hanya berada di ruang domestik maka menjadikan mereka tidak memiliki akses yang memadai terhadap dunia sosial. Suara mereka oleh karenanya lebih sulit untuk terdengar dalam wilayah publik. Suara wanita dan suara pria oleh karenanya berada pada derajat yang tidak sama, berada pada posisi yang tidak seimbang.

Kramarae juga berasumsi bahwa wanita dan pria memandang dunia secara berbeda dikarenakan mereka memiliki pengalaman dan aktivitas yang berbeda dalam pembagian kerja mereka. Kramarae juga menolak pernyataan Freud yang menyebutkan bahwa “anatomy is destiny”, bahwa masalah perbedaan jender adalah sesuatu yang bersifat takdir.

Kendala lain bagi kaum wanita adalah tidak memadainya kosakata yang tersedia bagi wanita untuk mengutarakan atau mengekspresikan apa yang ada di dalam benak mereka, apa-apa yang mereka inginkan, mengekspresikan pengalaman mereka. Dalam ruang publik, kaum wanita biasanya harus memiliki kata-kata secara baik dan cermat. Apa-apa yang hendak dikatakan oleh mereka terasa sangat sulit karena kosakata yang ada bukan diciptakan oleh mereka, tapi lebih banyak oleh kaum laki-laki.

Kramarae menuntut sebuah ‘arena bermain’ dimana posisi wanita dan pria sederajat dan seimbang sehingga keduanya memiliki kesempatan yang sama dalam berkompetisi. Kramarae juga mengatakan bahwa selama ini kaum pria telah menciptakan struktur sistem nlai dan bahasa yang mencerminkan struktur tersebut. Wanita oleh karenanya berkerja dalam sistem yang diciptakan oleh kaum pria tersebut.

Daftar Pustaka:

Griffin, Emory A., A First Look at Communication Theory, 5th edition, New York: McGraw-Hill, 2003

One thought on “Muted Group Theory Cheris Kramarae

  1. Siang pa’
    itu mungkin dulu muted theory group, tp sejak kemunculan kaum feminis yg mengusung persamaan gender. Nampaknya wanita lebih punya kesempatan u/ berekspresi or munyuarakan ide2 nya.
    21 april selalu dPeringati hari Kartini, dan beliaulah yg mendobrak pakem2 feodal u/ perempuan Indonesia. Terlepas wanita yang memiliki kodratnya dlam frame agama, selama pasangannya tidak berkeberatan u/mBerikan space bagi kaum perempuan (pasangannya) dengan kesepakatan2 bersama. Tentu saja perempuan tidak lagi kelompok yang terpinggirkan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s