(Kegagalan) Media Massa Mewujudkan Public Sphere

Jurgen Habermas

Jurgen Habermas

Jika media massa banyak dipahami sebagai sesuatu yang “dari kapitalis oleh kapitalis dan untuk kapitalis”, maka pertanyaannya masih adakah media yang berpihak kepada public sphere? Atau mungkin lebih tepatnya, mampukah media massa berperan sebagai public sphere dalam tatanan masyarakat modern dewasa ini?

Lalu apakah yang dimaksudkan dengan public sphere? Dalam hal ini saya lebih merujuk kepada konsep public sphere dalam pengertian Jurgen Habermas. Konsep tersebut muncul dalam pemikiran Habermas tentang harapan akan aanya suatu kondisi atau suatu dunia (ruang) di mana terjadi suatu komunikasi yang bebas dari dominasi, suatu uncoersive comunication, di dalam masyarakat. Diskusi yang semacam itu hanya mungkin muncul di dalam wilayah sosial yang bebas dari sensor dan dominasi. Wilayah itulah yang disebut dengan public sphere (Hardiman, 1993: 128-129). Continue reading

Cultivation Theory

Berapa kemungkinan Anda akan menjadi korban peristiwa kejahatan atau kriminalitas dalam waktu seminggu ke depan? Apakah 1: 10, 1: 100, atau 1: 1000 ? Menurut George Gerbner jawaban tersebut akan bergantung kepada seberapa sering Anda menonton televisi.

Menurut Dekan Annenberg School for Communication Universitas Pennsylvania dan juga pendiri Cultural

George Gerbner

George Gerbner

Environment Movement ini, para penonton televisi yang masuk dalam kategori penonton berat (heavy viewers) cenderung memiliki keyakinan bahwa dunia ini adalah dunia yang kejam dan menakutkan (mean and scary world). Kekekarasan yang mereka saksikan dalam layar kaca televisi dapat menjadikan penonton tersebut terjebak dalam paranoia yang menjadikan mereka selalu merasa tidak aman dan tidak percaya kepada orang-orang di sekitar mereka.

Sependapat dengan Marshal McLuhan, Gerbner berpendapat bahwa televisi memiliki kekuatan yang dominan dalam membentuk masyarakat modern. Akan tetapi tidak seperti McLuhan yang melihat medium sebagai pesan, Gerbner meyakini bahwa kekuatan televisi muncul dari isi tayangan televisi itu sendiri yang dilihat sebagai real-life drama yang muncul setiap saat, berjam-jam setiap harinya. Sebagai hasilnya, televisi dimaknai sebagai storyteller dalam kehidupan masyarakat. Dalam bahasa lain, televisi dilihat mampu menggambarkan apa-apa yang ada, penting, dan benar-benar terjadi, dalam masyarakat kita. Continue reading

Teori Agenda Setting

(from left) Donald Shaw, Maxwell McCombs and David Weaver

(from left) Donald Shaw, Maxwell McCombs and David Weaver

The press may not be succesful much of the time in telling people what to think, but it is stunningly succesful in telling its readers what to think about.”

Media massa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi agenda media kepada agenda publik. Teori Agenda

Setting didasari oleh asumsi demikian. Teori ini sendiri dicetuskan oleh Profesor Jurnalisme Maxwell McCombs dan Donald Shaw.

Menurut McCombs dan Shaw, “we judge as important what the media judge as important.” Kita cenderung menilai sesuatu itu penting sebagaimana media massa menganggap hal tersebut penting. Jika media massa menganggap suatu isu itu penting maka kita juga akan menganggapnya penting. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi diri kita, bahkan menjadi tidak terlihat sama sekali. Continue reading

Muted Group Theory Cheris Kramarae

Cheris Kramarae

Cheris Kramarae

Cheris Kramarae menyatakan bahwa bahasa adalah konstruksi kaum pria. Menurutnya, bahasa dalam budaya tertentu tidak memperlakukan setiap orang secara setara, dan tidak semua orang berkontribusi secara berimbang terhadap penciptaan bahasa tersebut. Wanita (dan kelompok yang tersubordinasi lainnya) tidak sebebas dan memiliki akses yang luas sebagaimana kaum pria dalam mengekspresikan apa yang mereka inginkan, kapan, dan di mana mereka menginginkannya, karena kata-kata dan nornma-norma yang digunakan pada dasarnya dibentuk oleh kelompok dominan, yaitu kaum pria itu sendiri.

Menurut Kramarae dan para Teorisi Feminisme lainnya wanita sering kali tidak diperhitungkan dalam masyarakat kita. Pemikiran kaum wanita tidak dinilai sama sekali. Dan ketika kaum wanita coba menyuarakan ketidaksetaraan ini, kontrol komunikasi yang dikuasai oleh paham maskulin cenderung tidak menguntungkan para wanita. Dan bahasa yang diciptakan oleh kaum pria “diciptakan dengan berpretensi, tidak menghargai dan meniadakan kaum wanita.” Wanita oleh karenanya menjadi kelompok yang terbungkam (muted group). Continue reading