Budaya Dalam Air Seni

Suasana di Pameran Seni Rayuan Pulau Kelapa di Galeri Ruang Rupa, Jakarta

Suasana di Pameran Seni Rayuan Pulau Kelapa di Galeri Ruang Rupa, Jakarta

Masihkah perbedaan antara budaya tinggi dan budaya rendah relevan?

Jika anda pernah mengunjungi sebuah pameran seni di galeri seni, maka anda akan disuguhkan dengan rangkaian hasil karya seni—yang merupakan artefak budaya—yang biasanya dinilai sebagai bagian dari budaya tinggi.

Misalkan saja bahwa di sana terpampang berbagai lukisan yang artistik, yang indah. Atau juga berbagai macam hasil karya fotografi atau karya instalasi yang juga dinilai artistik.

Pada zaman dahulu, yang namanya galeri seni itu adalah sebuah tempat yang “sakral” di mana hanya orang-orang tertentu yang bisa datang ke sana. Hanya warga kelas atas dan berpendidikan yang bisa hadir di sana. Oleh karenanya, mereka datang tentunya untuk menikmati berbagai karya seni yang tidak sembarangan pula.

Kalangan kelas atas tadi pastinya hadir untuk mengonsumsi karya seni dari budaya tinggi (high art) pula. Dengan menyaksikan karya seni kelas tinggi harapannya adalah status sebagai kalangan kelas tinggi mereka akan semakin tershahihkan.

Leavis dan Arnold (dalam Barker, 2004) membedakan mana budaya (atau seni) yang baik dan yang buruk, yang kelas tinggi dan yang rendahan. Pembedaan ini terutama terpusat kepada kualitas estetika. Pemisahan budaya tinggi terutama juga sebagai pembedaan terhadap budaya populer.

Padahal, pemisahan macam ini seringnya bertumpu kepada hierarki selera budaya yang berbasis kelas. Di mana hierarki tersebut dibentuk dalam suatu kondisi sosial dan sejarah tertentu. Mereka inilah yang kemudian menentukan kriteria universal tentang kriteria estetika itu sendiri.

Allen (dikutip dalam Barker, 2004) tetap menegaskan bahwa pembedaan budaya tinggi dengan budaya rendah adalah soal kompleksitas dan otentitas dari budaya tersebut, terutama lagi dalam karya seni mereka. Yang kemudian membutuhkan keterampilan dan usaha khusus bagi pembacanya untuk bisa memahami dan mengonsumsi pengalaman estetika dari budaya tersebut. Berdasarkan paradigma ini maka tayangan semacam sinetron sebagai contoh budaya populer, akan dilihat sebagai budaya rendahan yang tidak memiliki nilai estetika dan superfisial.

Seni dapat dimaknai sebagai kategori yang diciptakan secara sosial yang mana di dalamnya tersematkan tanda-tanda eskternal maupun internal. Melalui tanda-tanda inilah seni tersebut dimaknai. Contohnya adalah galeri seni dan gedung teater. Oleh karenanya, seni sebagai kualitas estetika seringnya dilabelkan dengan budaya barat dan kelas elit.

Wolfff (dalam Barker, 2004) menambahkan bahwa seni tidak lagi dilihat sebagai karya yang beragam dan unik dengan kekhasannya masing-masing. Seni kemudian secara salah telah digeneralisasikan ke dalam kriteria-kriteria seni tertentu.

Pertanyaannya kemudian adalah seberapa hebatkah batasan antara seni tinggi dengan seni rendah tadi?

Tisna Sanjaya (2006) misalkan pernah mengkritisi pendefinisian seni yang cenderung rigid. Tisna dalam Pasar Seni ITB 2006 pernah mengemas lumpur Porong Sidoarjo dalam 40 botol bekas selai yang ditata dalam rak dan diberi judul “Original Arts from Sidoarjo” Dan laku terjual seharga US$10.

Salah seorang pembelinya mengatakan bahwa dia bisa saja membawa lumpur dari Porong sana satu truk sekalipun. Tapi, ketika lumpur tersebut dikemas dan dijual dalam ajang Pasar Seni, maka dia menjadi lumpur seni. Pasar Seni telah mengubah lumpur menjadi seni.

Atau contoh yang lain adalah karya David Tarigan. Dia memamerkan koleksi air seni dalam botol, sebagai tugas akhirnya dengan status mahasiswa seni rupa ITB. Air seni menjadi seni itu sendiri. Air seni adalah budaya.

Jika semua orang punya air seni, dan air seni tersebut bisa dipamerkan, bukankah logikanya bahwa semua orang itu bisa menjadi seniman? Hanya dengan modal air seni manusia sudah bisa berbudaya.

Kritikan terhadap batasan high art-low art juga semakin muncul ke permukaan dalam wacana popular culture atau budaya populer.

Melalui kehadiran media massa—yang pada pada nantinya menciptakan budaya populer—budaya yang tadinya dianggap sebagai bagian dari high culture atau high art nyatanya bisa dijatuhkan sedemikian rupa ke dalam ranah low culture.

Jika dahulu pementasan teater kelas atas hanya bisa ditonton di West End atau Broadway sana, maka kini tidak lagi. Kalangan kelas bawah yang tinggal di kampung atau gang sempit sekarang dapat menyaksikannya melalui layar televisi.

Musik klasik ala Mozart atau Beethoven sebagai bagian dari budaya tinggi yang tadinya hanya dapat dikonsumsi oleh kalangan atas toh sekarang juga mengalami degradasi. Petani bertopi caping yang sedang bersantai di pematang sawah bisa mendengarkan karya Chopin melalui MP3 player.

Pop culture telah mencairkan batasan antara budaya tinggi dan budaya rendah tadi. Terutama melalui peranan media massa dan perkembangan teknologi informasi.

Meski demikian budaya populer itu sendiri juga tidak lepas dari kritikan. Bahkan budaya populer dinilai sebagai bagian dari budaya rendahan, yang oleh karenanya sampai kapanpun akan berbeda dengan budaya tinggi.

Bagaimana juga budaya populer semacam sinetron akan dilihat lebih rendah dibandingkan dengan film yang dipentaskan di Festival Film Cannes, misalkan. Musik dangdut akan dilihat lebih rendah dari musik jazz. Lagu-lagu ala ST12 atau Kangen Band akan selalu dimaknai lebih rendah dari Symphony #9.

Budaya populer itu sebenarnya menjadi populer karena dia dikonsumsi oleh banyak orang, secara massif. Di mana ketika mereka mengonsumsi semua nilai budaya tersebut, tidak memerlukan usaha, kemahiran atau kecerdasan khusus. Artinya, dapat dikonsumsi oleh semua “lidah budaya” hampir semua orang. Budaya populer oleh karenanya tidak memiliki kerumitan.

Budaya populer juga dinilai tidak orisinil. Tidak memiliki nilai keaslian atau otentitas yang tinggi. Bahkan tiru-meniru, duplikasi, dalam budaya populer bukanlah suatu aib.

Populer culture dimaknai sebagai praktek politis. Maksudnya adalah pada kenyataannya tidak ada sebuah budaya yang secara tidak sengaja menjadi populer. Asumsinya ada semacam “aspek politis” yang mana mengakibatkan budaya macam ini populer atau tidak, karya seni ini populer dan karya seni itu tidak populer.

Menurut Chris Barker (2004) budaya populer berdiri di atas produksi pemaknaan populer yang berdasar atas konsumsi. Yang mana pemaknaan itu sendiri adalah sebuah situs pertarungan nilai-nilai budaya dan nilai-nilai politik.

Stuart Hall (dalam Barker, 2004) menjelaskan bahwa budaya populer merupakan sebuah arena pertarungan atas pemaknaan budaya. Dan merupakan sebuah arena di mana hegemoni budaya mengakarkan dirinya sekaligus juga menghadapi tantangan terhadap dirinya.

Hall mengingatkan akan konsepsi politis dalam melihat budaya populer. Penilaian tentang budaya populer tidaklah terkait dengan soal nilai-nilai estetika budaya (budaya baik atau budaya buruk). Akan tetapi lebih mengalihkan pandangan kepada peran kekuasaan yang berlaku dalam praktek budaya populer. Konsepsi budaya popluer bukan hanya ditantang oleh pembedaan budaya tinggi-budaya rendah tapi juga oleh klasifikasi budaya oleh dan melalui kekuasaan.

Maka kesimpulannya adalah cultural studies melihat budaya sebagai ranah kekuasaan. Ada semacam politik budaya. Budaya itu tidak netral. Klasifikasi budaya tinggi-budaya rendah, atau wacana pop culture sekalipun pada hakikatnya adalah sebuah pertarungan dalam rangka pemaknaan atas budaya itu sendiri.

Selamat berbudaya.

Yearry Panji, Tangerang 5 Januari 2009

Daftar Pustaka:

· Tisna Sanjaya, Pasar Seni, Air Seni, dalam Majalah Playboy, Edisi Indonesia, November 2006

· Chris Barker, Cultural Studies Theory and Practice, New Delhi: Sage, 2004

2 thoughts on “Budaya Dalam Air Seni

  1. Semakin mendekati titik terang…karena slama ini g selalu bertanya-tanya apa sih yang dimaksud dengan pop culture atau budaya pop…

    Oh ternyata begitu ya…tulisan yang menarik banget! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s