Budaya dalam Secangkir Kopi

Anda suka minum kopi?

Suatu ketika saya pernah minum kopi. Peristiwa yang sangat biasa sepertinya. Tapi yang menjadikannya berbeda adalah saya minum kopi tersebut sekitar pukul 2.30 dini hari. Nah, warung kopi mana yang masih buka dini hari begini?

Starbucks coffee shop. Terletak di kawasan Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat. Buka 24 jam.

Untuk mendapatkan kopi di dini hari semacam ini saya harus rela membayarkan sekitar Rp. 20ribu hanya untuk secangkir kopi. Padahal kalau bikin kopi sendiri di rumah, cukup beli kopi sachet yang tidak lebih dari Rp. 300.

Lalu apa yang membedakan antara minum kopi di rumah dengan kopi di coffee shop macam Starbucks tadi? Atau mungkin juga perbedaannya dengan warkop (warung kopi).

Selain harganya yang berbeda, nuansa selera, kenyamanan, fleksibilitas, dan efesiensi adalah yang membedakan antara keduanya.

Jika anda berkunjung ke cofee shop maka anda akan dilayani dengan serba praktis. Datang ke kasir, pilih menu kopi yang macam mana (dan biasanya ada display menu dan harganya), bayar, dan anda segera memperoleh pesanan anda. Kemudian dipersilahkan memilih tempat duduk (yang biasanya adalah sofa yang nyaman dan empuk) atau anda juga bisa memesan menu kopi yang take away (baca: bisa dibawa pulang).

Jadi, ini bukan sekedar soal minum kopi, tapi lebih kepada bagaimana minum kopi yang nyaman dan praktis. Lupakan betapa repotnya nyeduh kopi sendiri di rumah. Belum merebus air panasnya segala macam.

Hal yang lainnya adalah soal selera. Maksudnya, kalau anda bikin kopi sendiri di rumah, selain tidak praktis, pilihan kopi-nya juga itu-itu saja. Nah, kalau di coffee shop tentunya pilihannya lebih beragam. Lagipula “katanya” rasanya yang lebih nikmat, dan lebih berkelas.

George Ritzer (1996) menilai fenomena macam ini sebagai salah satu ciri dari McDonaldization of Society. McDonaldization itu sendiri merupakan sebuah fenomena sosial (dan budaya) yang dimaknai sebagai “the process by which the principles of the fast-food restaurant are coming to dominate more and more sectors of American society as well as of the rest of the world”.

Masyarakat kini mengadopsi nilai-nilai budaya serba praktis, budaya instan. Bahkan dalam soal minum kopi tadi. Dan tanpa sadar kita justru mengadopsi nilai-nilai praktis tadi bukan hanya sekedar dalam soal-soal yang sepele tapi juga dalam banyak segi kehidupan kita yang lainnya. Dan kita justru menikmatinya dengan sukarela.

Persoalan yang lain yang juga muncul dari soal minum kopi ini adalah fenomena munculnya consumer society atau masyarakat konsumer. Teori ini dipopulerkan oleh Jean Baudrillard.

Menurut Baudrillard (1998) pada dasarnya masyarakat modern dewasa ini telah berubah menjadi masyarakat konsumer, masyarakat yang semakin konsumtif.

Konsumsi dalam perspektif Baudrillard bukanlah tentang membeli barang atau produk. Konsumsi di sini lebih dilihat sebagai tatanan pemaknaan dari sebuah objek. Konsumsi adalah kode-kode (codes) atau tanda-tanda (signs) atau lebih tepatnya disebut sebagai ‘an order of the manipulation of signs’.

Kita pada dasarnya ketika mengonsumsi sesuatu (membeli produk atau jasa) pada hakikatnya bukan kepada produk atau jasa itu sendiri. Tapi, lebih kepada nilai tanda apa yang kita konsumsi dari produk atau jasa tersebut.

Sebagai contoh, kita membeli tas bermerk Louis Vuitton. Kita membeli produk tersebut bukanlah karena kita memang membutuhkan sebuah tas. Justru yang kita beli adalah nilai tanda dari tas tersebut, yang mana bermerk Louis Vuitton—sebuah merk terkenal. Dengan membeli tas bermerk tersebut kita mengonsumsi nilai yang disematkan dalam nama Louis Vuitton (berkelas, mewah, elegan, kelas atas, import, mengerti trend fashion, dan sejenisnya).

Padahal, bukankah jika memang kita membutuhkan tas, maka kita tidak akan mempersoalkan merk apa yang kita beli sejauh memang kita butuh tas dan bukan merknya. Tapi kenapa kemudian muncul pembedaan tas bermerk A dengan tas bermerk B. Bahwa tas dengan merk Louis Vuitton atau Gucci itu berbeda dengan tas dengan merk lokal yang dijual di Pasar Tanah Abang.

Lalu, kenapa pada akhirnya kita memutuskan membeli barang dengan merk tertentu? Yang kita beli benarkah barang yang memang kita butuhkan? Ataukah justru kita membeli merk?

Baudrillard menyatakan bahwa pola konsumsi kita bukan hanya persoalan bagaimana kita mengonsumsi komoditi dalam rangka pencapaian kepuasan pribadi. Konsumsi lebih kepada bagaimana individu menghubungkan diri mereka dengan tatanan sosial. Dengan mengonsumsi komoditi yang berlabel kelas sosial tertentu maka mereka mencoba menghubungkan diri dengan tatanan sosial di mana para anggotanya mengonsumsi komoditi yang sama.

Ketika seseorang membeli produk mobil mewah BMW, mereka tidak hanya membeli nilai kelas yang tersematkan dalam produk BMW tadi. Mereka juga merasa dengan membeli BMW maka mereka akan masuk ke dalam tatanan sosial di mana para anggotanya adalah para pemilik mobil BMW tadi. Dan bagi yang kitak mengonsumsi merk yang sama, tidak punya BMW, maka tidak bisa masuk ke dalam kelas ini. Maka, bukan sesuatu yang aneh jika pada nantinya muncul komunitas-komunitas yang terbentuk karena persamaan komoditi yang mereka konsumsi. Komunitas pemilik mobil mewah, komunitas motor gede, dan semacamnya.

Kembali lagi ke soal kopi, sampai di sini kita masuk ke dalam permasalahan yang sama. Apa benar yang kita minum itu hanya kopi semata? Atau apa benar yang kita minum itu kopi, dan bukannya kelas sosial atau kebudayaan itu sendiri?

Seno Gumira Ajidarma (2008) menyebutkan bahwa yang namanya kebudayaan itu bukan hanya “pameran lukisan”, tapi ngopi pun juga merupakan sebuah kebudayaan. Karena di dalamnya bukan hanya soal selera tapi juga soal pilihan dan citra diri. Kopi bukanlah sekedar kopi. Kopi bukan hanya caffeine, kopi telah menjadi makna.

Saya sendiri lebih melihat para manusia yang betah nongkrong di coffee shop macam Starbucks atau Coffee Bean sebenarnya bukan meminum kopi. Mereka meminum makna.

Mengapa pula mereka lebih memilih ngopi di Starbucks tadi berjam-jam, dan bukannya ngopi di warkop? Bukankah kalau memang cuma mau ngopi, di warkop juga sama saja? Bahkan kalau di warkop bisa ngopi plus main catur dan kalau anda lapar bisa sambil pesan mie rebus segala.

Kita ngopi di coffee shop untuk menunjukkan bahwa kebudayaan kita berbeda dengan orang lain yang hanya ngopi di warkop. Kita ingin menunjukkan bahwa kita yang suka ngopi di coffee shop itu lebih berbudaya daripada yang cuma nyruput kopi sachet di rumah.

Nah, ternyata untuk dibilang ber-kebudayaan itu mudah. Cukup sambil ngopi.

Referensi:

  • George Ritzer, The McDonaldization of Society, CA: Pine Forge Press, 1996
  • Jean Baudrillard, The Consumer Society; Myths and Structures, London: Sage, 1998
  • Seno Gumira Ajidarma, Kentut Kosmopolitan, Depok: Koekoesan, 2008

2 thoughts on “Budaya dalam Secangkir Kopi

  1. “Bahkan kalau di warkop bisa ngopi plus main catur dan kalau anda lapar bisa sambil pesan mie rebus segala.”
    hhee, bener banget.

    pendapat saya sbg mhsiswa bapak,budaya mngkonsumsi merk ini rawan konflik. lebih jauh lagi pemaknaan merk sbg sebuah nilai bs mnjadi sebuah “medan perang”. dan tiap tmpat bisa dijadikan mdan prang. perang antara orang mngkonsumsi sesuatu karena hakekat produk tersbut dngan orang yang hanya mnkonsumsi nilai.

  2. Enakan ngopi di rumah sambil chat di PC hahah intinya minum kopi dan ngobrol kan?

    Starbuck identik banget dgn kehidupan urban…betapa dahsyatnya pengaruh sebuah merek…

    Jadi mbayangin apa jadinya kalau tiba2 mendapati Starbuck bukannya angkringan di jalanan ringroad selatan Jogja heheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s