Film dan Representasi Budaya

Film Catatan Si Boy, Representasi Budaya Jakarta 90-an

Film Catatan Si Boy, Representasi Budaya Jakarta 90-an

Anda suka menonton film?

Film dapat dikatakan sebagai salah satu media hiburan yang paling populer, selain televisi tentunya. Menonton film, baik itu di bioskop, melalui DVD/VCD bajakan maupun yang orisinil, atau justru menonton film di televisi, telah menjadi sarana eskapasi diri yang menyenangkan.

Jika dahulu menonton film masih termasuk ke dalam suatu bentuk hiburan yang agak ekslusif, adalah benarnya. Film mulanya hanya bisa disaksikan dalam sebuah gedung yang bernama bioskop. Dan hanya kalangan tertentu saja yang mampu menonton film di tempat macam ini. Tentunya yang berduit dan mampu membeli tiket.

Sebenarnya apa sih yang menarik dari film? Lalu apa bedanya dengan saudara mudanya, televisi? Toh sama-sama menyajikan gambar idoep (sesuai dengan definisi denotatifnya).

Film menjadi berbeda dengan bentuk media audio-visual yang lainnya macam televisi karena dia mampu membentuk (atau sebenarnya justru memang dibentuk) identitasnya sendiri. Menonton film pada nantinya akan mendefinisikan dirinya berbeda dengan menonton televisi.

Saya bukan ahli film dan saya juga tidak pernah kuliah mengambil sinematografi atau sejenisnya di Institut Kesenian Jakarta. Jadi, di sini saya tidak akan membahas film secara terperinci atau lebih teknis. Saya hanya ingin mengatakan bahwa film adalah media terefektif dan terpopuler dalam pembelajaran budaya oleh masyarakat.

Melalui film sebenarnya kita banyak belajar tentang budaya. Baik itu budaya masyarakat di mana kita hidup di dalamnya, atau bahkan budaya yang sama sekali asing buat kita. Dan kita menjadi mengetahui bahwa budaya masyarakat ini begini dan budaya masyarakat itu begitu, terutama melalui film.

Film juga dilihat sebagai media sosialisasi dan media publikasi budaya yang ampuh dan persuasif. Buktinya adalah ajang-ajang festival film semacam Jiffest (Jakarta International Film Festival), Festival Film Perancis, Pekan Film Eropa, dan sejenisnya merupakan ajang tahunan yang rutin di selenggarakan di Indonesia.

Film-film yang disajikan dalam pelbagai ajang festival tadi telah berperan sebagai duta besar kebudayaan mereka sendiri, untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang memiliki budaya yang tentunya berbeda dengan dari mana film tersebut berasal. Duta besar yang tidak birokratis pastinya.

Begitu pula dengan audiensnya. Mereka dengan sadar datang menonton film salah satunya untuk mengenal budaya yang lainnya. Mereka menonton film Iran karena ingin tau bagaimana kehidupan sosial budaya masyarakat Iran dan berbagai dinamikanya. Belum lagi film Ceko, Hongaria, Cile, Korea Utara, dan sebagainya.

Unsur-unsur dan nilai budaya ini yang sering luput dari sajian televisi. Media televisi tidak bisa atau lebih tepatnya tidak merasa perlu untuk menyajikan nilai budaya sebagaimana yang tersajikan melalui media film.

Film untuk itu dipahami sebagai representasi budaya. Film digunakan sebagai cerminan untuk mengaca atau untuk melihat bagaimana budaya bekerja atau hidup di dalam suatu masyarakat.

Ketika kita melihat film Ali Topan maka pada dasarnya kita sedang melihat cerminan dari budaya remaja yang terjadi pada era di mana Ali Topan itu hidup. Dan ketika kita menonton film Ada Apa Dengan Cinta maka kita juga sedang melihat representasi budaya remaja era Dian Sastro dan Nicolas Saputra.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan representasi?

Oma Irama

Oma Irama

Chris Barker menyebutkan bahwa representasi merupakan kajian utama dalam cultural studies. Representasi sendiri dimaknai sebagai bagaimana dunia dikonstruksikan secara sosialn dan disajikan kepada kita dan oleh kita di dalam pemaknaan tertentu. Cultural studie memfokuskan diri kepada bagaimana proses pemaknaan representasi itu sendiri. [1]

Menurut Stuart Hall (1997), representasi adalah salah satu praktek penting yang memproduksi kebudayaan. Kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas, kebudayaan menyangkut ‘pengalaman berbagi’. Seseorang dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia-manusia yang ada disitu membagi pengalaman yang sama, membagi kode-kode kebudayaan yang sama, berbicara dalam ‘bahasa’ yang sama, dan saling berbagi konsep-konsep yang sama. [2]

Dalam pembicaraan kita, representasi merujuk kepada konstuksi segala bentuk media (terutama media massa) terhadap segala aspek realitas atau kenyataan, seperti masyarakat, objek, peristiwa, hingga identitas budaya. Representasi ini bisa berbentuk kata-kata atau tulisan bahkan juga dapat dilihat dalam bentuk gambar bergerak atau film.[3]

Konsep representasi sendiri dilihat sebagai sebuah produk dari proses representasi. Representasi tidak hanya melibatkan bagaimana identitas budaya disajikan (atau lebih tepatnya dikonstruksikan) di dalam sebuah teks tapi juga dikonstruksikan di dalam proses produksi dan resepsi oleh masyakarat yang mengkonsumsi nilai-nilai budaya yang direpresentasikan tadi. [4]

Dalam kasus film sebagai representasi budaya, film tidak hanya mengkonstruksikan nilai-nilai budaya tertentu di dalam dirinya sendiri, tapi juga tentang bagaimana nilai-nilai tadi diproduksi dan bagaimana nilai itu dikonsumsi oleh masyarakat yang menyaksikan film tersebut. Jadi ada semacam proses pertukaran kode-kode kebudayaan dalam tindakan menonton film sebagai representasi budaya.

Junaidi, dalam artikelnya Film Mandarin dan Identitas Budaya Indonesia, mendiskusikan perspektif Cultural Studies yang melihat fenomena film Mandarin dalam kaitannya dengan pembentukan identitas bangsa Indonesia. Di sini Junaidi percaya bahwa film, sebagaimana halnya produk budaya lain, memegang peran yang penting dalam merepresentasikan siapa itu orang Indonesia.[5]

Dalam risetnya tersebut Junaidi menceritakan sejumlah temuannya. Misalkan bahwa representasi orang China di beberapa film masih bersifat negatif dan simplisistis. Masyarakat China dilihat sebagai masyarakat yang homogen dan tak berubah. Kompleksitas identitas masyarakat China dan interaksi mereka dengan etnis lain seringkali terabaikan. Sikap masa bodoh, praduga, dan stereotipe negatif akhirnya terakumulasi. [6]

Padahal jika mau jujur, belum tentu masyarakat China pada realitas kesehariannya itu sebagaimana yang ada di dalam film atau sinetron kita. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa apa yang disajikan oleh film tadi belum tentu sesuai dengan realitas yang aslinya. Film bagaimanapun hanya menyajikan representasi dari realitas.

Representasi di sini harus lebih dilihat sebagai upaya menyajikan ulang sebuah realitas. Dalam usaha menyajikan ulang ini tentunya sampai kapan juga tidak akan pernah menyajikan dirinya sebagai realitas yang aslinya. Film sebagai representasi budaya hanyalah sebagai second hand reality.

Belum lagi jika kita membedah lebih lanjut bagaimana proses produksi film sebagai proses representasi tadi. Di balik proses representasi ada siapa saja yang terlibat di dalamnya, dalam rangka kepentingan apa, dan bagaimana representasi yang mereka lakukan. Jadi yang namanya representasi itu sangat sulit untuk dibilang netral atau alamiah.

Jika anda suka menonton film laga ala Hollywood seringkali digambarkan bagaimana orang Amerika memulu sebagai pahlawan pembela kebenaran. Dan sebaliknya yang namanya penjahat atau teroris adalah orang Timur Tengah, atau orang Rusia. Film ini adalah sebuah upaya representasi yang cenderung manipulatif.

Apakah kalau yang namanya teroris itu adalah melulu orang Timut Tengah? Ya, kata film Hollywood. Karena sangat jarang film Hollywood menggambarkan bahwa teroris itu orang Amerika. Sebaliknya coba anda tanyakan kepada orang Iran, siapa yang mereka sebut sebagai teroris? Jawabannya kemungkinan justru orang Amerika itu sendiri. Nah?

Referensi:


[1] Chris Barker, Cultural Studies Theory and Practice, New Delhi: Sage, 2004, hlm. 8

[2] Nuraini Juliastuti, Representasi, Newsletter KUNCI No. 4, Maret 2000, http://kunci.or.id/esai/nws/04/representasi.htm

[4] ibid

[5] Junaidi, Film Mandarin dan Identitas Budaya Indonesia, http://www.readingculture.net

[6] ibid

2 thoughts on “Film dan Representasi Budaya

  1. film merupakan media konstruksi yang bias. bias gender, bias budaya, bahkan bias konspirasi. dengan kata lain film, bisa menjadi senjata yang lebih berbahaya dibanding sebuah mata pisau atau pentung peluru!!!

  2. sorry, kmren salah post…
    bagaimana peran pendidikan trhadap FILM atau TELEVISI yang mengutak ngatik budaya bahkan lebih kepada pembodohan (kebanyakan acaranya)???
    selama ini kan hanya ada kritik di dalam kelas atau seminar-seminar doank??
    mohon bantuan nya sir….
    tanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s