Islam in the Digital Age: E-Jihad, Online Fatwas and Cyber Islamic Environments

Book Review

Bunt, G. A. (2003). Islam in the Digital Age: E-Jihad, Online Fatwas and Cyber Islamic Environments. London: Pluto Press. 237 pages.

Image courtesy of catalogue.library.manchester.ac.uk

Islam is usually seen as a community left behind in the matter of technology. The majority of Muslim community does not live in developed countries. Therefore, this conclusion makes sense. Only those who live in an advanced country will be benefit from by the technology, while the Muslim majority had not had this privilege. However, this perception nowadays is relatively incorrect because of the technology penetration, especially communication technology such as the Internet since it is becoming global. This trend makes the Muslim community in each part of the world now have the same access to the Internet as the rest.

More than just recognizing the fact that the Muslim world today has gained the Internet literacy, it is rather significant to explore what will the Muslim world do with the Internet. While there are numerous research and literature about the Muslim world and the mass media, there are still low studies which have identified the relationship between the Muslim world and the Internet practices. This deficit is worsened by the stereotype that has been given to Islam and the technology like the conclusion that the Muslim community has left behind. However, this perception is getting more critiques especially because there is a change happening in the Muslim world in this digital era. Gary Bunt tries to offer a closer observation of this brand new phenomenon with a more narrative language and also wants to offer explanation on how the Muslim communities interact with and within the virtual world like the Internet.

In general, this book develops three major issues which are covered in several chapters. His discussion started with his attempt to define the concept of Cyber Islamic Environment. His idea about this concept is based on the simple definition that Cyber Islamic Environment is anything that a Muslim does related to the Internet activities with the emphasis on his/her religiousness and identity expressions. Although this concept is relatively general, Bunt’s definition helps to describe how a Muslim as an individual, as a community or an institution interacts with and within the Internet in reference to their religious faith as a Muslim. For instance, it helps us to understand how the Muslims’ daily basic practices in using email, mailing lists, chat-rooms, social media, web based forum discussions are mentioned as the examples of the concept of Cyber Islamic Environment.

Continue reading

Advertisements

Pengantar Metode Penelitian Komunikasi

Berbicara ilmu komunikasi dalam ranah akademis, maka mau tidak mau kita berkutat dengan apa yang disebut sebagai metodologi penelitian. Untuk itu, bagi setiap kita yang mempelajari komunikasi sebagai suatu ilmu yang ilmiah dalam kajian akademik adalah suatu keharusan untuk mengenal, memahami, dan juga mampu mengaplikasikan beragam pendekatan di dalam metode penelitian komunikasi. Dengan menerapkan metode penelitian komunikasi dengan tepat maka diharapkan kita dapat lebih memahami konteks beragam fenomena komunikasi secara lebih ilmiah.

 

Mengingat sangat beragamnya pendekatan, metode, paradigma, hingga teknik penelitian komunikasi, maka ada baiknya kita mencoba untuk mengenali pelbagai variannya. Dengan mengenali berbagai tipe penelitian maka kita dapat menentukan motode atau teknik apa yang cocok untuk meneliti suatu kasus dan mana yang kiranya kurang tepat. Kecermatan dalam memiilih metode yang digunakan pada nantinya akan mempengaruhi bagaimana kualitas penelitian itu sendiri.

Continue reading

Sputnik Sweetheart

Sputnik Sweetheart (Cover © Nobuyoshi Araki)

Pada suatu hari aku jatuh cinta kepada seorang wanita. Suatu hari yang lain wanita itu juga bilang jika ia jatuh cinta. Sayangnya, aku bukan orang yang beruntung itu. Wanita itu jatuh cinta kepada seorang wanita yang 17 tahun lebih tua dari dirinya. Sejak itu aku menyimpan perasaan ini di dalam hati karena aku akan bahagia jika melihat wanita yang aku cintai berbahagia bersama orang yang ia cintai pula.

Kisah cinta segitiga ini adalah pokok cerita yang ingin diceritakan oleh Haruki Murakami di dalam novel Sputnik Sweetheart. Seakan tidak ingin menyederhanakan persoalan, kisah cinta antara seorang pria kepada wanita, seorang wanita kepada wanita, dan bagaimana cinta bernegosiasi dengan situasi, mimpi, dan juga masa lalu, diikat dalam sebuah rangkaian tulisan yang sederhana namun sekaligus rumit.

Murakami menggunakan sudut pandang seorang pria bernama K sebagai narator dalam cerita ini. K sebagai tokoh aku memendam perasaan kepada sahabatnya, Sumire, sosok perempuan yang tomboy dan tidak mengenal istilah berdandan, memiliki impian menjadi seorang penulis novel, memiliki sifat yang polos dan apa adanya. Kedekatan antara keduanya ternyata menyimpan tembok penghalang, yaitu sosok wanita lain bernama Miu. Continue reading

Kafka on the Shore

Kafka on the Shore - Haruki Murakami

Kehidupan itu ibaratnya adalah sebuah labirin. Ia bagaikan sebuah misteri yang aneh sekaligus absurd. Atau dalam bahasa Haruki Murakami disebut ”tragedi”. Dalam bukunya kali ini, Kafka on the Shore kisah ini coba dinarasikan dalam perjalanan seorang anak laki-laki berusia 15 tahun bernama Kafka Tamura.

Tepat setelah hari ulang tahunnya yang ke-lima belas, Kafka melarikan diri dari rumahnya di Nagano untuk kemudian berpetualang seorang diri tanpa ada tujuan. Berbekal ransel, uang secukupnya, ia mendamparkan dirinya dalam perjalanan dengan bus hingga tiba di Takamatsu.

Sebagaimana umumnya sebuah perjalanan, ia juga berjumpa dengan karakter lainnya, Sakura, yang ia asumsikan sebagai kakaknya yang telah hilang di masa lalu. Kita seringkali berjumpa dengan seorang yang baru kita kenal, tapi entah kenapa kita sering berpikir bahwa setidaknya sepertinya di masa lalu kita pernah berjumpa dengan orang tersebut. Mungkin bagian dari kehidupan kita sebelumnya.

Continue reading

Public Sphere and the New Media (How Democratization and Political Communication in the Internet Shape the Indonesian Society)

Presented in Indonesia International Communication Conferece 2010, November 22-23

 

Communication Technology Development and the New Media

Communication always has a connection to the development of technology. Invention of the new kinds of communication technology, hardware or software, in the end will has impact to the way we communicate. The new way we communicate defined by this kind of communication technology. The public communication finally will be highly influenced by how the communication technology itself developing.

Innovation of technology at first came from human needs for any tools to help them to do something. McQuail (2000) said innovation always come and adapted from human needs for social change in the society. Any change within the society will be influencing the technology and further more in the way how communication technology adapted that change.

Indonesian society is also facing the same condition. If we can say this society gradually becoming an information society, as the consequence is any form of the communication technology development will impact the Indonesian social and political life.

If we discuss computer as one of communication technology then we cannot avoid talk about internet or new media. New media cannot be simplified into technological application for transmitting message or connected people into communication. The term of the Web 2.0 the internet becoming a phenomenon in order to shape the way of social relationship among the people who communicate using the new media. Continue reading

Berita Konflik: Suatu Kritik Peran Media sebagai Ruang Publik dan Pilar Demokrasi

(Makalah ini telah dipresentasikan pada Seminar Internasional Sebumi 3 di Fakulti Sains dan Kemanusiaan Universiti Kebangsaan Malaysia 12-13 Oktober 2010)

Latar Belakang

Belakangan ini di berbagai pemberitaan media massa marak mengangkat tentang konflik dan kekerasan. Sumber berita dalam kasus konflik ini sangat beragam. Mulai dari konflik internasional, konflik horizontal, konflik yang bersifat politis, hingga persoalan yang bersifat domestik, semuanya menjadi bahan pemberitaan yang mampu menyedot perhatian masyarakat.

Jika dilihat dari perspektif positivistik, media massa memberitakan tentang pelbagai peristiwa konflik sebagai kegiatan yang bersifat bebas nilai. Suatu peristiwa konflik terjadi di masyarakat maka sudah tugas media untuk mengangkat fakta tersebut ke dalam pemberitaan. Media hanya bekerja sebagai pelapor bahwa dalam kenyataan riil di dalam masyarakat marak terjadinya peristiwa konflik.

Dalam sudut pandang ini, fenomena pemberitaan konflik yang banyak terjadi di dalam masyarakat merupakan sebuah indikator bahwa masyarakat kita memang sangat akrab dengan konflik dan juga kekerasan. Peran media adalah untuk menyoroti peristiwa dan kemudian mengangkatnya ke publik. Maka, jika dalam berita media massa banyak dipaparkan tentang berbagai macam konflik dalam masyarakat, maka hal ini berjalan lurus dengan kondisi nyata di dalam masyarakat itu sendiri. Continue reading

Reporting Diversity Curricula Development Workshop

 

peserta workshop MDI

Media Diversity Institute London bekerjasama dengan Paramadina Foundation dan RoSi Inc. mengadakan pelatihan berjudul “Reporting Diversity Curricula Development Workshop.” Acara yang diselenggarakan selama dua hari, 11—12 November 2010 ini bertempat di Marley Signature Food, The Energy Building, SCBD Area, Jakarta.

Diikuti oleh sekitar 20 peserta dari berbagai perguruan tinggi yang memiliki program studi ataupun pengajaran jurnalisme di institusi mereka, pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan kurikulum jurnalisme yang berbasis kepada inklusivitas. Lebih fokus lagi, Media Diversity menitikberatkan kepada bagaimana mengadaptasikan kurikulum jurnalistik yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi di Indonesia agar peka terhadap isu-isu diveristas (keragaman) serta bagaimana meliput perbedaan.

Isu diversitas menjadi penting terutama terkait dengan konteks Indonesia yang memiliki keragaman hampir dalam banyak aspek, baik itu budaya, suku, ras, etnis, agama, dan seterusnya. Keragaman tadi sayangnya seringkali diabaikan oleh media massa. Dapat kita lihat secara sekilas bahwa media massa mainstream di Indonesia acap kali tidak memberikan ruang yang cukup dalam memberitakan kelompok-kelompok minoritas, dan kalaupun ada bagaimana mereka membahasakan dan membingkai keragaman tadi dirasakan tidak fair ataupun tidak adil. Continue reading

Konser Nostalgia ala Ian “The Monkey” Brown dan Kula Shaker

Ian Brown © satriaramadhan

Akhirnya sang legenda Madchester, Ian Brown, mantan vokalis The Stone Roses datang juga ke Jakarta, Jumat 6 Agustus 2010. Tampil berbagi panggung dengan Ian Brown adalah Kula Shaker, band britpop/psycadelic dari Inggris yang juga sudah dinanti-nantikan oleh banyak penggemar mereka sejak era MTV Alternative Nations dahulu.

Pertunjukkan yang digelar secara outdoor di Lapangan Basket ABC Senayan ini memang agak menyiksa penonton di Jakarta yang terbiasa menyaksikan konser secara indoor. Hujan yang mengguyur sejak sore harinya mengakibatkan sebagian penonton berbasah-basahan sebelum konser mulai.

Open gate sejak pukul delapan malam, tapi Kula Shaker sebagai penampil pertama baru naik panggung sekitar jam setengah sepuluh. Dimulai dengan intro musik dan vokal ala India, keempat personel Kulashaker naik panggung diiringi tepuk tangan penonton. Tanpa banyak berbicara, mereka langsung menggebrak dengan lagu pertama, Sound of Drums. Seluruh penonton serta merta ikut bernyanyi bersama. Continue reading

Cut///Copy di Bengkel Night Park Jakarta

©rottenfresh/iloveglam

Band synth-pop asal Australia, Cut Copy berhasil menghibur penonton Jakarta. Pada konser yang diselenggarakan oleh Ismaya Live di Bengkel Night Park Jakarta pada 10 Juli 2010 ini, seakan membawa crowd untuk menikmati suasana.

Dibuka oleh dua band synthpop lokal, RNRM dan Agrikulture, pertunjukkan malam itu sebenarnya berjalan agak membosankan di awalnya. Penonton terlihat masih agak sepi ketika penampilan pertama dari RNRM sudah dimulai. Alhasil penampilan apik dari RNRM tidak terlalu antusias disambut oleh massa.

RNRM sendiri masih membawakan sejumlah lagu dari album kedua mereka Outbox. Hopes, dibawakan kedua setelah intro. Diselingi beberapa lagu baru dari materi album yang rencananya akan rilis dua tiga bulan ke depan. Lagu lainnya, Questions, dan di lagu terakhir Nyanya ikut tampil menyanyikan lagu Zsa Zsa Zsu. Continue reading

Berwisata ke Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air

Jika anda berkunjung ke Pulau Lombok, agaknya anda akan sangat menyesal jika tidak mengun

Gili Trawangan

jungi Tiga Gili, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Tiga

pulau di sebelah barat laut Pulau Lombok ini merupakan salah satu surga bagi wisatawan mancanegara.

Jika merujuk kepada situs wikipedia, disebutkan bahwa Gili Trawangan (pulau terbesar dari ketiga Gili tersebut) yang memiliki panjang 3 km dan lebar 2 km ini hanya berpenduduk sekitar 800 jiwa. Uniknya, di pulau ini tidak ada satupun kendaraan bermotor karena memang dilarang oleh aturan setempat.

Jangan bayangkan bahwa anda akan berada di pulau yang sepi dan terpencil, karena jika sore dan malam hari, Gili Trawangan berubah menjadi tempat wisata malam yang dapat dikatakan hampir lengkap dan selalu ramai. Mulai dari hotel mewah, restoran yang menjajakan seafood di sepanjang pesisir pantai, hingga Bar Irlandia semuanya ada di sini. Continue reading