Kolaborasi Musisi Tua-Muda di Djakarta Artmosphere

Siapa bilang musik indie itu hanya untuk kalangan muda? Sebuah konser musik bertitel Djakarta Artmosphere ternyata membuktikan bahwa musik indie mampu melintasi generasi. Musisi senior pun menyukai bahkan berkolaborasi dengan sejumlah musisi muda.

Picture 589

djakarta artmosphere

Ebiet G Ade berduet dengan band Sore, Oele Pattiselanno serta Fariz RM bermain bersama White Shoes and the Couples Company, Tika and The Dissidents bernyanyi bersama Vina Panduwinata, serta Efek Rumah Kaca yang menggandeng Doel Sumbang, adalah bukti nyata yang ditampilkan pada acara tersebut, Sabtu (7/11). Upper Room Hotel Nikko Jakarta, tempat diselenggarakannya konser ini dipenuhi oleh penonton, tua dan muda.

Acara yang dimulai sejak sore hari itu ibarat sebuah sindiran bagi industri musik Indonesia yang seakan sudah terlalu penat dengan musik yang tidak bermutu dan komersil semata. Kehadiran sejumlah musisi dan band yang non-mainstream nyatanya tidak menjadikan acara tersebut sepi penonton. Bahkan dengan tiket yang terhitung mahal, Rp. 75ribu, yang hadir tidak bisa dibilang sedikit.

Panitia menyiapkan dua buah panggung untuk sejumlah penampil di acara ini. Yang pertama, lower stage, menyajikan berbagai band yang mungkin tidak terlalu populer karena mereka jarang tampil di acara semcam Inbox, Dahsyat, Derings dan sejenisnya. Tapi bicara soal kualitas dan musikalitas mereka di atas rata-rata.

Picture 054

Sore & Ebiet G Ade

Sebut saja Angsa & Serigala atau duo Endah N Rhesa. Buktinya, penonton terlihat mampu bernyanyi bersama sepanjang lagu. Ada juga Anda with the Joints, Gugun Blues Shelter yang memainkan musik blues, serta band rock GRIBS.

Pertujukan utama disajikan di panggung kedua, main stage, di lantai atas. Setelah pertunjukan di lower stage usai, penonton berlanjut ke panggung utama ini untuk menyaksikan sajian utama kolaborasi malam itu.

Sore, tampil pertama dan langsung mengusung Vrijeman dan Bogor Biru, serta sebuah aransemen ulang dari lagu Ebiet G Ade, Menjaring Matahari. Beberapa saat kemudian dihadirkan sang pemilik lagu ke atas panggung. Ebiet sendiri memulai dengan memainkan gitar solo membawakan sebuah lagu yang menurutnya jarang dimainkan di depan umum, Jakarta.

Picture 212

Fariz RM

“Senang sekali rasanya berkolaborasi bersama anak-anak muda seperti Sore ini, “ ujar Ebiet. Selanjutnya, mereka berduet memainkan lagu Camelia 2, serta ditutup dengan Berita Kepada Kawan.

Berikutnya White Shoes and the Couples Company hadir dengan intro “pa..pa..pa..pa” sebelum mulai memainkan lagu pertama, Windu & Defrina. Aksi Kucing menyusul kemudian. Bersama musisi lawas, Oele Pattiselanno, mereka memainkan lagu Kapiten dan Gadis Desa serta lagu ciptaan Ismail Marzuki, Sabda Alam.

Picture 220

white shoes & the couples company

Fariz RM kemudian hadir ke panggung dan berduet dengan White Shoes membawakan lagu Senja Menggila (di Lingkar Kota). “Ini adalah salah satu lagu kesukaan saya dari band White Shoes”, ujar Fariz RM soal lagu Senja Menggila. Serta dimainkan pula Selangkah Ke Seberang dan Barcelona.

Tika & The Dissidents mengambil alih panggung setelah White Shoes and the Couples Company. Dengan kostum bertema Red Ridding Hood, Tika tampil sangat apik malam itu. Mereka memulai dengan sejumlah lagu dari album terbaru mereka, The Headless Songstress. Red Red Cabaret dan Polpot.

Berikutnya mereka mencoba memainkan lagu milik Vina Panduwinata, Cinta. Lalu sebuah versi lain dari lagu Di Dadaku Ada Kamu. “Ini versi perempuan psycho, “ ujar Tika. Lagu yang seharusnya ceria ini menjadi terasa gelap dan galau, ciri khas musik Tika.

Picture 414

Tika & Vina

“Banyak orang yang bisa menyebut dirinya Diva. Tapi yang ini the trully Indonesian Diva, Vina Panduwinata, “ papar Tika ketika mempersilahkan Vina Panduwinata hadir ke depan panggung yang diiringi tepuk tangan penonton.

The moon is too scary to be real, our hearts are too weary to feel, “ lirih Vina menyanyikan lagu milik Tika and the Dissidents, Infidel Castratie. “We might not make it after all, cuts and briuses fall after fall.”

Penonton kemudian terlihat bernyanyi bersama ketika Vina dan Tika membawakan lagu lawas Surat Cinta. “Surat Cintaku yang pertama….la la la, “ koor penonton.

Picture 327

Tika & The Dissidents

Tampil terakhir adalah Efek Rumah Kaca. Memulai dengan lagu Balerina, mereka menampilkan seorang gadis balerina menari di atas panggung. Selanjutnya Ade Firza Paloh dari Sore ikut menyanyi di lagu Jangan Bakar Buku. Dilanjutkan dengan lagu Mosi Tidak Percaya sebagai sindiran terhadap kasus kriminalisasi KPK oleh Kepolisian.

Efek Rumah Kaca

Efek Rumah Kaca

Efek Rumah Kaca lalu berduet bersama Doel Sumbang membawakan lagu ciptaan Remy Silado berjudul Martini. Menyusul kemudian lagu Di Udara, sebuah lagu yang didedikasikan untuk Munir.

“Marilah sayang…mari sirami, cinta yang tumbuh di dalam diri,” nyanyi Doel Sumbang yang diikuti oleh seluruh penonton ketika lagu Arti Kehidupan dimainkan.

Penampilan malam itu ditutup dengan naiknya semua artis yang berkolaborasi ke atas panggung. Mereka menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. Dan pertunjukkan pun usai.

Picture 554

Doel Sumbang

Jakarta, 7 November 2009

5 thoughts on “Kolaborasi Musisi Tua-Muda di Djakarta Artmosphere

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s