Workshop Sehari “Prospek Pendidikan Kriminologi di Universitas”

Pada Sabtu 21 Februari 2009 yang lalu FISIP Universitas Indonesia menyelenggarakan kegiatan workshop yang bertema Prospek Pendidikan Kriminologi di Universitas. Acara yang diinisiasi oleh Forum Dekan FISIP se-Indonesia ini bertujuan menjajaki kemungkinan penyelenggaraan pendidikan kriminologi di berbagai Universitas di Indonesia.

Acara yang dilangsungkan di Audiotium AJB Bumiputera FISIP UI ini dimulai pukul 8 pagi dan secara resmi dibuka oleh ketua panitia, Thomas Sunaryo. Dilanjutkan oleh sambutan dari Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono, M.Sc. Di antara peserta yang hadir antara lain berbagai dekan Fisip dari universitas-universitas di Indonesia, wakil dekan, maupun utusan dari universitas yang bersangkutan.

Sesi pertama acara dimulai dengan penyampaian materi oleh Mardjono Reksodiputro, mantan Guru Besar Hukum Pidana dan Kriminilogi UI. Materi yang disampaikan berjudul Sekilas-Pintas Perkembangan Kriminologi, Sebagai Ilmu, Profesi, Aplikasi, Keahlian dan Kesejahteraan. Materi ini sekaligus sebagai pokok-pokok untuk bahan diskusi secara umum di workshop sehari ini.

Pembicara secara umum menjelaskan tentang sejarah kelahiran studi kriminologi di Indonesia yang di pelopori di UI sekitar tahun 1948. Berdasar perkembangannya kriminologi pernah berada di bawah Fakultas Hukum dan pernah juga menjadi bagian dari ilmu sosiologi. Hingga kemudian kini kriminologi menjadi departemen tersendiri di dalam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Pada mulanya kriminologi hanya dijadikan sebagai ‘ilmu bantu’ bagi ilmu-ilmu lain semacam hokum pidana maupun sosiologi. Mengutip pernyataan van Bemmelen, karena sifatnya yang multidisipliner, kriminologi juga acap disebut sebagai “a King Without Country”.

Prof. Mardjono juga menegaskan tentang definisi profesi kriminologi. Bahwa kriminologi dapat disebut sebagai profesi jika memang dia beranjak dari suatu pendidikan akademis, dan bukan yang lain. Kriminolog hanya berlaku bagi mereka yang melakukan pendidikan di universitas dan/atau yang melakukan riset di bidang kriminologi.

Sesi kedua diisi oleh ceramah dari Guru Besar Kriminologi UI, Prof. Dr. Ronny Nitibaskara. Pembicara kali ini lebih banyak menceritakan tentang dinamika kriminologi dalam aplikasinya dalam kehidupan masyarakat. Dalam ceramahnya juga banyak dijelaskan bagaimana sebenarnya studi kriminologi kini sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Sesi ketiga menghadirkan Prof. Dr. Muhammad Mustofa, MA, Guru Besar Kriminologi UI lainnya. Dengan menyampaikan materi Kurikulum Pendidikan Kriminologi, Prof Mustofa menjelaskan secara detail kurikulum apa saja yang dibutuhkan dalam sebuah studi kriminologi di perguruan tinggi. Menurutnya, yang menjadi pilar keilmuan kriminologi sosial antara lain mencakup sosiologi kejahatan, sosiologi perilaku menyimpang, sosiologi hokum, penologi, vitimologi, dan pengendalian sosial kejahatan.

Sesi keempat menampilkan Ketua Departemen Kriminologi yang juga sebagai Guru Besar Kriminologi UI, Prof. Drs. Adrianus Meliala, M.Si., M.Sc., Ph.D. Materi yang dipaparkan adalah Bunga Rampai Hal-Hal yang Diperlukan Seputar Pendidikan Kriminologi.

Prof. Adrianus menekankan tentang pentingnya bahan literatur, pemanfaatan teknologi dalam sistem pengajaran, serta akses kepada stakeholder. Selian itu juga dipaparkan tentang prospek dunia kerja bagi lulusan kriminologi semisal Polri, BNN, Komnas HAM, KPK, BIN, Depkumham, media massa, lembaga donor, LSM, dan lain sebagainya.

Untuk itu, pembicara juga menyampaikan ada baiknya bekerjasama dengan modalitas FISIP UI sebagai pembina dan menjadi tempat pengembangan diri staf pengajar. FISIP UI juga bisa menjadi mitra bagi pembelian hak cipta kurikulum dan berbagai perangkat lunak dan sumber informasi pendidikan kriminologi lainnya. Selain itu modalitas kerjasama lainnya dapat berupa penelitian, pelatihan, seminar maupun publikasi bersama.

Sesi dilanjutkan dengan feed back dan follow up dari peserta. Berbagai diskusi dan pertanyaan yang menarik muncul dalam sesi kali ini.

Peserta dari Universitas Sriwijaya menyatakan sangat tertarik untuk membuka studi kriminologi di sana akan tetapi terbentur kepada kurangnya SDM dan untuk itu meminta solusi dari persoalan tersebut. Masalah yang lain yang juga mungkin terjadi adalah kekhawatiran minimnya peminat jika memang studi tersebut sudah berhasil dibuka di sana.

Sedangkan peserta dari Univeritas Lampung lebih tertarik untuk mengembangkan studi kirminologi sebagai konsentrasi di bawah sosiologi. Hal ini juga berangkat dari kurangnya tenaga pengajar di bidang kriminologi itu sendiri. Ungkapan yang senada juga dilontarkan peserta dari Universitas Andalas.

Peserta dari Univeritas Cendrawasih mengusulkan untuk melakukan sistem ‘pencangkokan’ guna mengatasi ketiadaan pengajar yang memadai. Misalkan saja dengan meminjam staf pengajar dari UI untuk membina pengajar di sana. Atau juga dengan mengirim beberapa calon dosen untuk belajar di UI.

Sementara peserta dari Univeritas Islam Riau menceritakan bahwa di sana sedang membuka studi kriminologi secara bertahap. Dan tahun ini adalah tahun ketiga penyelengaraan di sana. Tentang SDM, mereka memang didirikan oleh beberapa alumni S2 kriminologi dari UI. Dan kini sedang berupaya menambah jumlah pengajar dengan jalan menyekolahkan mereka di kriminologi UI.

Meskin demikian, mereka juga mengeluhkan sulitnya menembus syarat seleksi masuk UI ketika mereka ingin mengirimkan perwakilan untuk kuliah di UI. Kendala utama biasanya di Teofl dan Tes Potensi Akademik yang sulit dicapai oleh mereka.

Peserta tersebut juga mengusulkan bahwa minimnya tenaga pengajar bisa disiasati dengan mengajak para praktisi yang berkutat di dunia kriminologi sebagai dosen. Dalam hal ini mereka mengajak Kapolda maupun pihak Pemda atau pihak yang terkait sebagai dosen di sana.

Sayangnya hal ini dikritik oleh peserta dari Univeritas Hasanudin. Dia mengingatkan bahwa segala ketentuan dan peraturan mengenai penyelanggaraan atau pembukaan program studi baru harus tetap mengikuti aturan. Jangan sampai terkesan bahwa demi terselenggaranya jurusan baru kriminologi, segala cara dihalalkan.

Dia juga mengkritisi tentang penggunaan tenaga praktisi sebagai dosen. Menurutnya adalah haram menggunakan tenaga pengajar yang bukan dosen. Karena hanya dosen yang berhak mengajar sebagai dosen. Praktisi hanya diperbolehkan sebagai pembicara tamu dan bukannya dosen. Mengingat perkuliahan adalah dunia akademisi, dunia ilmiah, dan hal ini sudah diatur dalam undang-undang.

Hal ini juga dipertegas oleh Prof.Adrianus sebagai Ketua Departemen Kriminologi FISIP UI. Menurutnya harus ditegaskan bahwa pengajaran harus sangat memperhatikan alur teori keilmuan, sehingga tidak bisa orang yang non akademisi dijadikan dosen atau pengajar. Karena, universitas adalah milik akademisi.

Dekan FISIP UI menegaskan bahwa masing-masih universitas harus bersabar untuk menyelenggarakan studi kriminologi. Hal yang terpenting adalah melihat kesiapan masing-masing universitas. Segala persiapan yang ada wajib memenuhi semua syarat dan aturan tentang membuka studi baru. Dan ini tidak bisa ditawar-tawar.

Prospek pasar sendiri memang perlu diperhatikan. Akan tetapi juga jangan terjebak kepada paradigma market-driven, karena univeritas yang baik seharusnya memang bisa menciptakan lulusan yang menciptakan pasar itu sendiri.

Studi kelayakan perlu dibahas secara serius. Karena keberlangsungan jurusan harus terus dijaga jika sudah dibuka nantinya. Untuk itu pengelolaan yang profesional perlu terus ditingkatkan.

Tentang minimnya SDM maka perlu dicarikan solusi. Caranya adalah dengan pengembangan kerangka kerja SDM yang sistematis. Baik itu dengan menyekolahkan dosen, kaderisasi, maupun melalui pembinaan-pembinaan lainnya. Untuk itu, UI bersedia menjadi kampus Pembina.

Menurut Prof. Bambang, studi kriminologi pada hakikatnya menjadi semakin penting dan urgent. Mengingat kebutuhan masyakarat dan semakin kompleksnya dinamika kehidupan bangsa ini. Untuk itu segala usaha untuk terciptanya kemungkinan pengembangan studi kriminologi ini perlu terus didukung. Dan jangan pernah berpikir soal ekonomi untung-rugi jika universitas ingin menjadi pelopor penggerak intelektualitas masyarakat.

Sesi terakhir adalah ceramah penutup dari Dekan FISIP UI. Sekaligus diingatkan bahwa selesai workshop kali ini diharapkan dapat mengarah kepada MoU ke depannya, sesuai dengan wacana yang telah dibahas sebelumnya dalam Forum Dekan. Dengan demikian acara workhop selesai dan secara resmi ditutup.

Depok, 21 Februari 2009

Dilaporkan oleh Yearry Panji

10 thoughts on “Workshop Sehari “Prospek Pendidikan Kriminologi di Universitas”

  1. Menarik juga yah, seandainya ada banyak program studi ini dibuka gk cm di universitas negeri…

    Baru tau klo FISIP UI punya departemen Kriminologi sendiri. Keren!

  2. sore pak!
    kalau ngomong soal kuliah kita kan juga berbicara masalah pekerjaan yang dapat dicapai dari program kuliah yang kita pilih.
    kira-kira ya pak kalau jurusan kriminologi itu sendiri dapat bekerja di bidang apa sih? apakah kita dapat menjadi pengacara? atau yang lain.

    • kalau menurut keterangan dari Prof. Adrianus Meliala, sebenarnya lulusan kriminologi dapat bekerja di banyak bidang. selain di bidang kriminologi, hukum, misalkan saja dia dapat bekerja sebagai jurnalis (dengan keahliannya di bidang krimonologi), dapat juga sebagai konsultan baik bagi pemerintahan ataupun kepolisian, dan sejenisnya. trend yang lain adalah dapat berkecimpung sebagai pekerja dalam bidang penanganan cyber-crime, baik untuk keperluan institusi pemerintah maupun korporasi.

  3. hem… keren juga ya kalau seandainya smua universitas di indonesia punya program studi ni di indahkan…
    o.. ya pak..
    kriminologi itu sebenernya luas pengertianya, tetapi saya kurang mengerti,kriminologi itu bisa mencangkup dibidang apa saja?
    apakah dalam bidang hukum kriminologi bisa mencangkup smua hukum yang ada di dalam uud?
    syukron

  4. saya mahasiswa kriminologi ui 2011. agar lebih jelasnya saya tekankan di sini. kriminologi adalah ilmu yang sangat berkaitan dengan realitas sosial di masyarakat. itulah mengapa kriminologi yang ada di ui ditempatkan di fisip. fakultas ilmu sosial dan ilmu politik. jangan samakan dengan jurusan ilmu hukum,ya🙂
    di krim, kita emang belajar ttg hukum, hukum pidana + acara pidana, bahkan sosiologi hukum (lebih ke sosionya sih) karena lulusan sarjananya bergelar S.Sos, at least gak mungkin dong jadi pengacara ??? -_-
    mengenai kedepannya nantinya akan jadi apa, profesinya apa, di atas sudah jelas sekali sdr.yearry menjelaskannya. untuk teknisnya, buat s1, kalau tahun saya di bagi 2 jalur masuk, lewat tulis dan undangan. lewat jalur tulis bisa dari SIMAK UI, SNMPTN Tulis, UMB. Kalau yang undangan lewat snmptn undangan. bisa juga lewat pmdk. undangan dan pmdk dilihat dari nilai rapot 1-5.
    untuk pembagian kelompok kelas, dibagi lagi menjadi 2, kelompok reguler dan paralel. sampai di sini dulu, untuk lebih jelasnya bisa buka di http://www.criminology.fisip.ui.ac.id/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s