Bioskop dan Budaya

blitz

Bioskop sebagai Urban Place

Adakah hubungan antara menonton film di bioskop dengan budaya?

Dahulu kita pernah mendengar idiom bahwa kita belum bisa dibilang berbudaya jika belum pernah nonton film di bioskop. Atau bahasa awamnya, “Norak loe belum pernah ke bioskop.” Jadi, salah satu indikator berbudaya atau tidaknya seseorang dapat dilihat dari pernah atau tidak, atau sering tidaknya orang tersebut ke bioskop.

Tapi pernyataannya apakah hal tersebut kini masih relevan?

Zaman dahulu mungkin bioskop dapat dilihat sebagai “tempat budaya.” Maksudnya adalah satu-satunya tempat untuk nonton film, karena televisi masih termasuk media yang belum sepopuler sekarang. Nah, kini ketika televisi pun mampu menayangkan film-film box office-nya sendiri, masihkah bioskop relevan dengan statusnya tadi? Belum lagi bicara tentang VDC/DVD bajakan yang acap kali menyediakan film-film yang lebih up-to-date daripada bioskop itu sendiri.

Di lain pihak jika kita menyimak apa yang disebut dengan bioskop di zaman sekarang nyatanya tidak juga sepi pengunjung. Tetap ramai. Tetap dengan tujuan yang sama: untuk (lebih) berbudaya. Selain untuk sekedar menonton film tentunya. Maksudnya kalau untuk sekedar menonton film bukankah tidak harus ke bioskop?

Bioskop yang kini lebih ngetop disebut dengan twenty-one, ternyata lebih mengidentifikasikan dirinya sebagai urban place. Bioskop mendefinisikan dirinya sebagai sarana atau tempat di mana orang-orang ingin menyematkan identitas budaya sebagai manusia yang lebih berbudaya, lebih urban, dibandingkan dengan manusia-manusia yang hanya menonton film di televisi atau VCD/DVD bajakan.

Bioskop menjadi tempat kumpulnya kawula muda. Apakah mereka ke sana untuk menonton film, itu urusan nomor dua. Bioskop kini menjadi tempat untuk “begaol.”

Sebuah bioskop terkemuka bahkan menggunakan tag-line Beyond Movies di bawah namanya. Blitz Megaplex. Artinya, mereka tidak sekedar menyuguhkan film untuk ditonton, tapi sesungguhnya lebih dari itu. Apa yang mereka sajikan justru melampaui dagangan utama mereka: film.

Di Blitz Megaplex kita disuguhkan oleh sebuah one stop entertainment. Di sana disediakan bukan hanya ruangan untuk menonton film, tapi juga game zone, kafetaria, digital music store, dan lain-lain. Semuanya dikemas dalam bungkus kenyamanan dan kesan yang “mewah.”

Dalam pandangan Jean Baudrillad (1998), disebutkan bahwa kini masyarakat tidak lagi melihat sesuatu kepada nilai guna, tapi lebih kepada nilai tanda. Dalam kasus bioskop atau Blitz Megaplex, boleh jadi para pengunjung yang datang ke sana bukan untuk memenuhi kebutuhan primer mereka untuk menonton film. Mereka hadir di sana untuk mengonsumsi nilai tanda yang disematkan atau tersematkan dalam sebuah urban place bernama bioskop.

Ketika mereka hadir di sana, mereka juga ingin menyematkan nilai-nilai yang diidentifikasikan dalam Blitz Megaplex ke dalam diri mereka. Kenyamanan, kemewahan, bagian dari kaum urban, bagian dari kelas sosial tertentu. Nilai identitas yang akan membedakan mereka dengan orang-orang lain yang sekedar menonton film di depan layar televisi atau hanya melalui VDC/DVD bajakan.

Mereka akan merasa dirinya telah menjadi lebih berbudaya jika dibandingkan dengan orang-orang yang hanya menonton di bioskop lainnya yang kalah “mewah.” Bagi mereka yang terbiasa menonton di tempat yang mereka nilai berkelas ini, maka menonton film di bioskop nun terpencil di kota yang kecil pula, akan meruntuhkan nilai-nilai budaya yang telah mereka konsumsi melalui bioskop mewah tadi.

Bukankah di sisi lain bagi yang seumur-umur belum pernah masuk ke bioskop megah macam ini, dan hanya datang mengenakan sendal jepit dan celana jins butut, kemungikan besar akan merasa minder?

Perbandingan pun bermunculan. Dari filmnya yang sering telat atawa sudah basi, layarnya kalah lebar, sound-nya yang tidak dolby dan bikin kuping pengeng, ruang tunggu yang tidak nyaman bahkan mungkin tidak ada ruang tunggunya sama sekali sehingga harus selonjoran di bawah untuk menunggu, kamar mandi atau toilet yang bau pesing, tidak ada smoking room sehingga ada saja yang merokok di dalam studio, boro-boro ada kafetaria atau digital music store-nya. Kepentingan untuk menonton film pun terlupakan.

Para penonton bioskop terkemuka tadi pada dasarnya tidak mengonsumsi nilai tanda tadi secara pasif. Mereka justru mengonsumsi nilai budaya tadi secara aktif, untuk kemudian menegosiasikannya dengan diri mereka, dengan budaya mereka, hingga kemudian mengonstruksikan budaya mereka sendiri: apa yang disebut sebagai urban culture. Dan bioskop telah menjadi salah satu urban place-nya.

Yearry Panji,
Tangerang, 5 Desember 2008

4 thoughts on “Bioskop dan Budaya

  1. Berarti g bukan termasuk orang yang berbudaya yah? heheh secara jarang banget ke bioskop hehe

    Yah seiring dengan bertambahnya waktu, memang saat ini masyarakat Indonesia memang digiring ke arah itu—> budaya konsumtif (eh boleh disebut budaya gk ya)

    Bukan hanya kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta (kota yang terakhir kali g kunjungi) pun sudah dipermak ke arah megapolis, Yogakarta sudah tidak sepolos dulu lagi…

    Tapi, penyematan nilai budaya ini juga tak lepas dari peran sebuah kotak ajaib yang bernama “televisi” bukan? Pendidikan televisi terkadang lebih mudah diserap oleh kalangan masyarakat dari berbagai latar belakang sosial…

    Sok ngerti banget yah g? hehe maap klo ada salah kata (^-^)v

    Piss ah!

  2. (Bukankah di sisi lain bagi yang seumur-umur belum pernah masuk ke bioskop megah macam ini, dan hanya datang mengenakan sendal jepit dan celana jins butut, kemungikan besar akan merasa minder?)

    menurut gue itu tergantung karakter dan mental masing2. To tell you the truth gue pernah ke Blitz dengan pakaian seadanya. Tapi yaaa… biasa aja. Karena gue ngerasa nggak berbuat dosa dan mengganggu orang lain. Sampai kapan pun selalu ada langit di atas lo. Jadi kslo boleh saran, nggak perlu membanduing2kan penampilan lo denan orang lain karena nggak akan ada habisnya.

    (Mereka akan merasa dirinya telah menjadi lebih berbudaya jika dibandingkan dengan orang-orang yang hanya menonton di bioskop lainnya yang kalah “mewah.”)

    Well… kayanya statement itu terlalu kasar juga.. karena kalo menurut gue sebaiknya kita juga mempertimbangkan keberadaan moviegoers/movie-holic/apapun istilahnya bagi pecinta movie. Mungkin bisa dibilang gue salah satunya. Ada perbedaan signifikan dalam kepuasan ketika nonton movie di teater and di laptop(by dvd) dan itu nggak ada hubungannya dengan budaya. gue nggak ngerasa pergi ke bioskop sebagai sarana mencari identitas atau kelas sosial. Gue ke bioskop karena pengen nonton dengan layar lebar, suara yang bagus, gambar 3D, and suasana yang nyaman. Simple.

    (Ketika mereka hadir di sana, mereka juga ingin menyematkan nilai-nilai yang diidentifikasikan dalam Blitz Megaplex ke dalam diri mereka. Kenyamanan, kemewahan, bagian dari kaum urban, bagian dari kelas sosial tertentu. Nilai identitas yang akan membedakan mereka dengan orang-orang lain yang sekedar menonton film di depan layar televisi atau hanya melalui VDC/DVD bajakan.)

    Kenyamanan dan kemewahan adalah selera, dan selera nggak ada yang salah dan ngak pernah sama. Dan menurut gue nonoton di depan layar televisi itu bukan “sekedar” dan “hanya”. Sedih banget kalo ada yang berpendapat demikian, karena mereka berarti nyaris kurang mensyukuri nikmat yang mereka punya. Identitas tidak berasal dari apa yang lo gunain or apa yang lo pake. Tapi lebih kepada bagaimana lo menyikapi tiap perbedaan yang ada di sekeliling lo.

    My Dear New Friend, dunia akan berkembang dan berubah lebih pesat lagi. Jangan biarkan diri lo terjemumus dalam pikiran2 identitas yang diukur dari materi ya.

    Peace.

    • Terima kasih atas komentarnya.

      Tulisan ini tidak bermaksud melakukan justifikasi macam apapun, hanya sebagai gambaran bahwa para realitasnya hadir fenomena semacam ini. Dan ada kenyataan yang demikian. Bagi yang tidak terkontaminasi mentalitas ‘culture-lag’ tersebut maka beruntunglah. Soal kemewahan, hmmmm saya kurang setuju kalau ini soal selera. Toh selera pun tidak bisa melepaskan dirinya dari konsep kapital.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s