Information and the Mathematical Theory of Communication

shannon model © www.comminit.com

shannon model © http://www.comminit.com

Claude Shannon (1949) mengutarakan tentang Mathematical Theory of Communication. Teori ini memfokuskan diri pada “that of reproducing at one point either exactly or approximity a message selected at another point” (Shannon, 1949: 31). Jadi, yang menjadi penting dalam teori ini adalah soal transmisi komunikasi.

Teori Shannon pada dasarnya adalah pendekatan teknis atau matematis terhadap komunikasi. Shannon ingin menggambarkan dalam perspektif matematis bagaimana proses sebuah pesan—pesan apa pun itu—mampu terkirimkan dari komunikator kepada komunikan.

Sistem komunikasi yang ditawarkan di sini mengibaratkan kerja sebuah mesin. Dengan menggunakan analogi sebuah komputer, komunikasi manusia dianggap bekerja dengan cara kerja yang sama.

Ada sejumlah asumsi yang sama dengan perspektif rezim komunikasi. John Locke melihat bahwa komunikasi adalah persoalan bagaimana ide ditransmisikan dari komunikator kepada komunikan. Teori ini sejalan dengan perspektif tersebut, bahkan menjelaskannya dengan lebih terperinci.

Warren Weaver (1949: 7) menggunakan penjelasan melalui contoh berikut ini.

“In oral speech, the information source is the brain, the transmitter is the voice mechanism producing the varying air pressure (the signal) which is ttransmitted through the air (the channel).”

Asumsinya adalah sebagai berikut. Ide yang ada di dalam benak komunikator (sender/source) pada mulanya diubah menjadi separangkat kode tertentu (decode). Ide ini diubah menjadi seperangkat sinyal (signal) yang akan dikirimkan melalui transmiter. Sinyal tersebut bisa berupa suara yang dikirimkan melalui mulut kita, tulisan yang dikirimkan melalui surat, pesan singkat melalui sms, atau teks berita yang dituliskan di lembaran surat kabar, dan seterusnya.

Signal tersebut dikirimkan kepada komunikan (destination). Sinyal ini ditangkap oleh receiver yang dimiliki oleh komunikan. Suara atau kata-kata yang disampaikan oleh komunikator ditangkap oleh telinga komunikan. Maka telinga adalah receiver bagi komunikan. Receiver inilah yang bertugas untuk mengolah kembali (encode) sinyal suara, menjadi seperangkat ide yang akan dipersepsikan oleh komunikan. Jadi, ide yang dikirimkan oleh komunikator telah berhasil tersampaikan kepada komunikan.

Teori ini melihat semua kerja transmisi komunikasi tersebut mirip dengan perspektif komunikasi sebagai proses pengolahan informasi. Lebih dari itu, teori ini juga menganggap bahwa komunikasi dilakukan dalam ranah ketidaksadaran.

Mathematical theory of communication juga menjelaskan tentang bagaimana sebenarnya kita dapat melakukan semacam prediksi terhadap tindakan komunikasi yang kita lakukan. Sebagai contoh, ketika komunikator mengirimkan pesan kepada komunikan berupa pesan “sudah makan belum?”. Menurut teori ini kita dapat memprediksi respon apa atau informasi apa yang bisa kita dapatkan dari komunikan dari pesan tersebut.

Kita dapat memprediksi bahwa ada 50 persen kemungkinan jawaban “sudah” dan 50 persen kemungkinan muncul jawaban “belum” dari komunikan. Maka, teori ini melihat bahwa komunikasi pada hakikatnya dapat dikalkulasikan. Komunikasi makin dilihat sebagai proses matematis.

Warren Weaver melakukan interpretasi terhadap teori Shannon ini. Weaver kemudian mengajukan konsep tiga level problem atau hambatan dalam komunikasi. Level A, bagaimana akurat pesan komunikasi dapat ditransmisikan? Level B, seberapa tepat pesan yang ditransmisikan mampu mendekati makna yang diinginkan? Dan level C, seberapa efektif pesan yang tersampaikan mempengaruhi tindakan yang diinginkan?

Jika Claude Shannon hanya memfokuskan diri pada perihal seberapa akurat pesan mampu terkirimkan, maka Weaver menjadikan cakupan teori ini menjadi lebih luas. Hingga kemudian teori ini membahas tentang dimensi semantik dan efektivitas dalam praktik komunikasi tersebut.

Pada nantinya, perspektif teori ini menjadi landasan yang sangat kuat bagi perkembangan ilmu komunikasi itu sendiri. Perspektif ini semakin mempertegas peran paradigma komunikasi sebagai transmisi ide.

Komunikasi, karena dilihat dalam sudut pandang matematis maka diasumsikan sebagai kerja teknis. Komunikasi dikaji melalui pendekatan ilmu eksakta, dapat diukur, dapat dihitung.

Ilmu komunikasi kemudian banyak dipelajari guna dijadikan sebagai alat. Dengan menganggap bahwa yang namanya efektivitas komunikasi dapat dihitung atau diukur sebagaimana matematika, pada nantinya komunikasi dapat dipakai sebagai alat kontrol. Hal ini misalkan saja dipertegas oleh pernyataan David Berlo (1960), “we communicate to influence—to effect with intent.”

Ilmu propaganda menganggap melalui komunikasi kita dapat mempengaruhi pemikiran bahkan sikap orang lain sesuai dengan apa yang kita inginkan atau harapkan. Karena, kita dapat mendesain dan mengukur efektivitas pesan komunikasi yang kita kirimkan. Bahkan dalam perspektif propaganda bisa jadi komunikasi dijadikan sebagai alat manipulasi.

Jadi, pada perkembangannya ilmu komunikasi hanya dijadikan sebagai sebuah alat guna menyampaikan pesan yang efektif kepada orang lain guna mencapai tujuan-tujuan tertentu sebagaimana yang diinginkan oleh si pengguna komunikasi. Dan mathematical theory of communication memberikan landasan dasar dalam sudut pandang transmisi komunikasi ini.

2 thoughts on “Information and the Mathematical Theory of Communication

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s