Hermeneutika

Paul Ricouer

Paul Ricouer

Selama ini kita telah terbiasa mendefinisikan atau menafsirkan komunikasi dalam perspektif komunikasi sebagai transmisi. Kosakata semacam ‘sender’, ‘receiver’, ‘encode’, ‘decode’, dan ‘transmision’ mencerminkan hal tersebut. Padahal, komunikasi itu sendiri juga dapat dipahami melalui perspektif yang berbeda. Misalkan dapat kita lihat dalam kosakata semacam ‘interpretasi’, ‘pemahaman’, maupun ‘perbincangan’. Komunikasi tidak lagi dilihat sebagai transmisi ide dari benak seseorang kepada orang yang lain, melainkan bahwa komunikasi merupakan proses penciptaan makna bersama di dalam suatu alur perbincangan. Atau dalam bahasa Radford (2005: 154) disebut “the mutual creation of meaning in the flow of a living genuine conversation.” Perspektif ini disebut sebagai hermeneutika.

Kata “hermeneutika” berasal dari mitos tentang Hermes. Hermes yang merupakan utusan Dewa dalam mitologi Yunani, bertugas menyampaikan pesan (atau wahyu) dari Dewa. Untuk itu, Hermes harus mampu berbicara dalam bahasa Dewa di satu sisi dan di sisi yang lainnya juga harus mampu berbahasa sebagaimana manusia biasa yang mana pesan atau wahyu tersebut ditujukan. Hermes memiliki dua tugas utama. Pertama, dia harus mengerti dan menerjemahkan bagi dirinya sendiri apa-apa yang Dewa inginkan melalui pesan atau wahyu-Nya. Kedua, dia juga harus menerjemahkan dan mengartikulasikan pesan atau wahyu tersebut kepada manusia awam.

Sekilas, gambaran di atas mirip dengan komunikasi dalam paradigma transmisi. Hermes membawa pesan dari Dewa (sender) untuk disampaikan kepada manusia (the receiver). Akan tetapi fokus utama hermeneutika tidaklah berkaitan dengan upaya menyamakan ide di dalam benak Dewa dengan ide dalam benak manusia. Hermeneutika lebih memusatkan perhatian kepada bagaimana peran Hermes dan kemampuannya dalam memahami sebuah wacana di satu wilayah (Dewa) dan mengartikulasikan pemahaman tersebut ke dalam wilayah yang lainnya yang berbeda (manusia). Hermes memerlukan usaha untuk mampu membaca dan memahai teks-teks yang diproduksi di suatu waktu dan tempat tertentu dan kemudian mengartikulasikan pemaknaannya di dalam ruang dan waktu yang sama sekali berbeda.

Hermeneutika pada mulanya banyak dipakai untuk menafsirkan teks-teks ayat suci, semacam injil. Permasalahan yang dihadapi oleh para penginjil tersebut sama dengan yang dihadapi oleh Hermes. Probematika yang muncul adalah bagaimana mengkomunikasikan pesan antara Dewa atau tuhan dengan manusia awam. Bagaimana para penginjil tersebut mampu secara akurat dan tepat menginterpreatsikan pesan tuhan secara sebagaimana adanya, seperti yang tertuang dalam injil, dan kemudian mengekspresikan pemaknaannya ke dalam bahasa di mana masyarakat tersebut berada, yang berada dalam ruang dan waktu yang berbeda-beda, dengan konteks sosial budaya yang berbeda-beda pula.

Di satu sisi pesan atau wahyu dari tuhan bersifat tetap, konstan, dan universal, akan tetapi di sisi yang lain konteks sosial dan budaya para umat yang membaca teks ayat-ayat suci tersebut berbeda-beda. Masing-masing masyarakat atau bahkan individu mungkin untuk menafsirkannya secara berbeda pula. Maka, tujuan utama hermeneutika adalah dalam persoalan semacam ini. Dalam bahasa Paul Riceour (1974: 4) disebutkan “the very work of interpretation reveals a profound intention, that of overcoming distance and cultural differences and of matching the reader to a text which has become foreign”. Jadi hermeneutika bertujuan untuk “menjembatani” antara teks dengan pembacanya. Fokusnya adalah mengurangi jarak antara pembaca dengan teks yang pada awalnya adalah asing dan tidak dipahami.

Menurut David Linge (1976) hermenutika berpusat pada permasalahan semacam ini, situasi di mana kita dihadapkan dengan situasi yang tidak dapat langsung kita pahami atau langsung mengerti akan maknanya. Untuk mencapai pemahaman tersebut diperlukan suatu usaha yang bernama “interpretive effort.” Radford (2005: 156) menganalogikan situasi ini dengan situasi ketika kita sedang melihat lukisan abstrak di Galeri Museum, membaca puisi atau karya sastra, atau membaca buku filsafat untuk pertama kalinya.

Dan ketika saat ini Anda sedang berusaha membaca teks ini untuk memahami tentang hermeneutika pada dasarnya Anda berada dalam situasi yang sama. Hermeneutika adalah sebuah kata atau konsep yang (pada awalnya) asing buat Anda, terutama jika Anda baru pertama kali belajar tentang filsafat. Hermeneutika adalah kata yang asing dan sangat mungkin sulit untuk Anda pahami. Maka Anda memerlukan ‘interpretive effort’ tadi.

Linge (1976: xii) kembali menyebutkan bahwa “in all these cases, the hermeneutical has to do with bridging the gap between the familiar world in which we stand and the strange meaning that resist assimilation into the horizon of our world”. Untuk memahami teks tentang hermeneutika pada hakikatnya kita mencoba menjembatani teks hermeneutika yang diciptakan pada satu ruang dan waktu tertentu, dengan konteks ruang dan waktu di mana kita berada, atau sesuai dengan ‘ensiklopedia’ yang kita miliki masing-masing.

Misalkan saja, ketika saya menulis artikel tentang hermeneutika ini saya merujuk kepada tulisan Gary Radford tentang hermenutika dalam buku On the Philosophy of Communication. Saya pertama-tama membaca teks tersebut, kemudian melakukan “interpretive effort” berusaha untuk memahami maksud dari teks tersebut. Saya tidak berupaya memahami teks hermeneutika tersebut dengan berusaha untuk mengerti isi kepala Gary Radford. Akan tetapi, saya, pada saat ini, di bulan Juni 2008, mengartikan teks tersebut sesuai dengan konteks ruang dan waktu yang saya miliki saat ini, sesuai dengan pemahaman saya tentang filsafat, latar belakang pendidikan, sosial budaya, buku-buku yang pernah saya baca, dan seterusnya. Saya mencoba membuat teks hermeneutika yang pada awalnya asing buat saya menjadi familiar dalam konteks ruang dan waktu yang saya miliki saat ini. Gary Radford sama sekali tidak punya kekuasaan untuk mendikte pemahamannya tentang hermeneutika kepada saya.

Begitu juga dengan situasi yang Anda hadapi saat ini, ketika Anda mempelajari teks tentang hermeneutika ini. Anda pada dasarnya tidak berusaha memahami tentang hermeneutika dengan berupaya melihat isi kepala saya atau mengerti apa yang saya pikirkan tentang hermeneutika. Tapi, Anda berusaha membuat teks hermeneutika yang asing bagi Anda ini, menjadi sesuatu yang tidak lagi asing. Anda mebuat semacam jembatan antara teks hermeneutika yang saya tulis ini dengan konteks ruang dan waktu yang Anda miliki.

Saya sama sekali tidak bisa mengontrol agar pemikiran saya tentang heremenutika untuk sama dengan apa yang ada di dalam benak Anda. Maka pada prinsipnya Anda telah melakukan interpretive effort dalam memahami teks heremenutika ini. Jadi, fokus perhatian komunikasi dalam perspektif hermenutika adalah menjembatani teks yang asing tadi agar menjadi dapat kita pahami sesuai dengan bahasa atau dunia yang kita sudah mengerti sebelumnya.

Daftar Pustaka:

Gary Radford, On the Philosophy of Communication, Belmont: Wadsworth. 2005

3 thoughts on “Hermeneutika

  1. Saya setuju dengan heurmeneutika dapat menjembatani bahasa yang digunakan pada teks yang dianggap asing oleh pembaca, dan akhirnya dipahami serta dapat menjellajahi dunia sastra dengan gamblang.
    sejauh ini pembacaan sastra lewat hermeneutika banyak manfaatnya. Karena dapat menafsirkan suatu subyek atau obyek pada ruang dan waktu yang berbeda. Pembacaan teks sastra lewat hermeneutika dapat memaknai absurditas kary sastra.

  2. sebenarnya pertanyaan yang ingin saya ajuakan. Apabila reader memiliki interpretive effort, bagaimana pesan dari sender dapat “terbaca” dengan “tepat”?

    • sebenarnya bukan soal apakah pembacaan itu terbaca dengan tepat atau kurang tepat. ini lebih kepada bagaimana mencoba mendekatai cakrawala si penulis, dengan tujuan agar pembacaan terhadap teks tersebut tidak menjadi liar atau bahkan absurd.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s