Teori Adaptif Strukturasi

“Anggota dalam sebuah kelompok menciptakan kelompok tersebut sebagaimana mereka berinteraksi di dalamnya… Seringkali orang-orang yang berada di dalam kelompok membuat struktur atau aturan yang membuat mereka merasa sangat tidak nyaman berada i dalamnya, akan tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka sendiri yang mencipatakan hal tersebut. Tujuan utama teori strukturasi adalah untuk menyadarkan merka akan aturan dan sumber daya yang mereka gunakan sehingga mereka akan mampu memiliki kontrol terhadap apa-apa yang mereka lakukan di dalam kelompok tersebut.”

Dalam komunikasi kelompok, Scott Poole berpendapat bahwa kita memiliki dua kemungkinan: apakah kita diatur oleh struktur kelompok tersebut ataukah kita memiliki kekebasan yang tak terbatas sebagai individu di dalam sebuah kelompok.

Selama ini banyak peneliti tentang perilaku kelompok dianggap terlalu menyederhanakan tentang perilaku kelompok. Dalam sebuah proses pengambilan keputusan dalam kelompok, mereka mengajukan model sebagai berikut:

  1. Orientasi: ketika tujuan dari kelompok belum jelas, hubungan antar anggota juga belum jelas, masing-masing anggota memerlukan lebih banyak informasi
  2. Konflik: banyaknya sudut pandang dan pendapat yang berbeda tentang bagaimana seharusnya kelompok tersebut terbentuk, masing-masing anggota memiliki pespektif sendiri-sendiri
  3. Koalisi: tensi mulai berkurang melalui negosiasi yang damai, mulai mencari titik temu antar anggota
  4. Pengembangan: kelompok mulai mencari cara untuk mencari satu solusi bersama, dimana semua anggota merasa terlibat dan berinteraksi di dalamnya.
  5. Intergrasi: munculnya solidaritas, dan tujuan kelompok tidak lagi dilihat sebagai sebuah kewajiban atau tuntutan.

Jika situasi kelompokberjalan sesuai dengan skenario tersebut, maka komunikasi kelompok akan menuju pola yang makin kooperatif.

Masalahnya menurut Poole, konsep tersebut terkesan terlalu simplisistik, terlalu menyederhanakan. Karena dinamika kelompok sebenarnya lebih rumit dari itu, dan beberapa hal sering muncul tanpa mengikuti alur atau tanpa bisa diprediksi sebelumnya. Lebih dari itu, model di atas juga terlihat mengabaikan pentingnya komunikasi di antara anggota kelompok itu sendiri. Komunikasi tidak terkesan penting dalam suatu hubungan di dalam kelompok.

Poole melanjutkan bahwa anggota kelompok pada dasarnya memang dipengaruhi oleh struktur sosial seperti posisi dalam kelompok, hirerarki, tugas dan fungsi dalam kelompok, norma-norma kelompok, dan sebagainya. Akan tetapi, struktur tersebut tidak dilihat sebagai faktor yang deterministik. Struktur bukan satu-satunya atau bukan yang paling menentukan bagaimana perilaku kelompok tersebut. Menurutnya, suara dari masing-masing anggota kelompok juga memiliki peran yang sama pentingnya.

Poole terinspirasi dari Teori Strukturasi dari Anthony Giddens, yang mana Giddens berpendapat bahwa manusia di dalam masyarakat sebenarnya adalah active agents yang mampu untuk “bertindak atau bersikap sesuai dengan kehendak” dan memiliki kemampuan untuk “menciptakan perbedaan”. Poole mencoba menerapkan teori ini ke dalam komunikasi kelompok.

Dalam konsepsi Giddens, strukturasi diartikan sebagai “the prodction and reproduction of the social systems through members’ use of rules and resources in interaction.” Manusia dilihat sebagai aktor yang aktif dan bukannnya pasif. Manusia tidak bersikap pasif terhadap sistem atau struktur yang mengikat mereka. Rules adalah semacam aturan main yang memastikan bahwa kelompok tersebut tetap memiliki tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan resources adalah hambatan, tantangan, kemampuan, pengetahuan, kehendak, yang dimiliki masing-masing individu di dalam kelompok tersebut, yang mereka gunakan untuk berinteraksi di dalam kelompok.

Selain itu, Poole juga sepakat dengan Giddens, tentang pentingnya peran moral, komunikasi, dan kekuasaan (morality, communication, and power)di dalam kelompok. Bahwa adanya struktur dan kebebasan individu, tanpa adanya ketiga faktor tersebut, maka tidak akan berjalan efektif.

Lalu, bagaimanakah kita harus bersikap di dalam sebuah kelompok? Untuk menjawab hal tersebut, kita dapat memilih dari beberapa pilihan di bawah ini:

Some people make things happen.

Some people watch things happen.

Some people have things happen to them.

Some people dont even know things are happening.

Anda ingin menjadi anggota kelompok yang bagaimana dari sejumlah pilihan di atas? Menurut Poole, di sini tiap-tiap anggota kelompok akan berperan berbeda-beda di dalam kelompok tersebut sesuai dengan sejauh mana tingkat kesadaran atau pengetahuan anggota tersebut akan konsep rules dan resuorces tadi. Juga sejauh mana anggota tersebut mampu mengelola moral, komunikasi, dan kekuasaan secara optimal.

Daftar Pustaka:

Griffin, Emory A., A First Look at Communication Theory, 5th edition, New York: McGraw-Hill, 2003, p.244—257

One thought on “Teori Adaptif Strukturasi

  1. Setiap anggota kelompok akan ,empengaruhi prilaku organisasi. Oleh karena itu harus selalu di lakuka up garading terhadap ketrampilan setiap anggota kelompok, agar memberikan pengaruh positif terhadap organisasi/ kelopmpok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s