Mendefinisikan Teori Komunikasi

Theories are maps of reality. Teori adalah peta dari kenyataan atau realitas. Ibarat kita sedang memasuki sebuah kawasan yang belum kita ketahui, maka kita memerlukan sebuah peta guna menghindari kemungkinan untuk tersesat di jalan. Secara sederhana itulah manfaat sebuah teori. Teori adalah sebuah panduan guna menapaki sebuah perjalanan, dalam hal ini perjalanan kita dalam mendalami ilmu komunikasi.

Teori adalah pilar utama ilmu pengetahuan. Melalui teori, ilmu komunikasi menjadi terus hidup, dan terus berkembang, dalam sebuah siklus sirkuler yang terus menerus.

Teori menciptakan pertanyaan atau permasalahan tentang suatu realitas. Dari suatu permasalahan kemudian memicu terjadinya berbagai macam penelitian atau observasi untuk mencari suatu jawaban dari pertanyaan atau permasalahan tersebut. Hasil dari observasi atau penelitian pada akhirnya mencetuskan suatu teori, yang pada nantinya teori ini dapat mengembangkan ilmu itu sendiri, dibantah, digugurkan, atau menciptakan berbagai pertanyaan atau permasalahan keilmuan yang lainnya.

Teori bukan sekedar sebuah penjelasan semata. Lebih dari itu teori merupakan sebuah cara pandang bagaimana kita melihat suatu fenomena, melihat realitas, dan bagaimana kita memahami realitas tersebut.

Empat Elemen Dasar Teori:

  • Philosophical assumption, or basic beliefs that underlie the theory
  • Concept, or building blocks,
  • Explanations, or dynamic connections made by the theory
  • Principles, or guidelines for actions

Teori memiliki asumsi filosofis. Artinya, tiap-tiap teori melihat suatu persoalan dalam sudut pandang filsafat tertentu. Dalam teori komunikasi, tiap teori komunikasi artinya memiliki penilaian filosofis tertentu terhadap satu fenomena komunikasi yang dibahasnya. Dan bisa jadi satu fenomena yang sama dapat dilihat secara berbeda-beda tergantung bagaimana teori tersebut melihat dari sudut pandang filosofis yang mana.

Teori memiliki konsep atau kerangka yang membangunnya. Satu teori pada adasarnya dibangun atas sejumlah konsep. Jika teori dilihat sebagai sebuah paragraf, maka konsep- ini adalah kalimat yang dirangkai menjadi sebuah paragraf. Sederhananya seperti itu.

Teori memiliki penjelasan. Maksudnya adalah, teori memiliki sejumlah konsep. Yang mana kemudian konsep-konsep tadi juga berperan untuk menjelaskan tentang apa-apa yang dimaksudkan di dalamnya. Teori oleh karenanya harus mampu untuk menjelaskan apa yang dimaksud oleh teori itu sendiri. Harus mampu untuk menjabarkan dirinya sendiri.

Teori juga seringkali memiliki prinsip-prinsip atau semacam petunjuk bagaimana tata cara penerapan dari teori tersebut. Ini semacam ‘petunjuk praktis’ atau tuntutan bagaimana penerapan suatu teori pada praktik di lapangannya. Akan tetapi, tidak semua teori memiliki kaidah semacam ini.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan teori komunikasi? Sasa Djuarsa mendefinisikan teori komunikasi sebagai “konseptualisasi atau penjelasan logis tentang fenomena peristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia.” Peristiwa yang dimaksud, mencakup produksi, proses, dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang yang terjadi dalam kehidupan manusia.

Daftar Pustaka:

Griffin, Emory A., A First Look at Communication Theory, 5th edition, New York: McGraw-Hill, 2003

Djuarsa Sendjaja, Sasa, et.al. Teori Komunikasi, Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004

2 thoughts on “Mendefinisikan Teori Komunikasi

  1. nama saya saiful abrori.boleh kasih tanggapan?berbincang dalam masalah teori perspektif filsafat.banyak khalayak memandang teori tak lain adalah jelmaan sebuah realitas atau fenomena yang ada.akan tetapi berkaitannnya dengan dunia filsafat yang lebih condong pada hakikat dari pada realitas maka seakan-akan teori yang dikenal dengan jelmaan realitas dalam pandangan filsafat akan runtuh…perkembangan ilmu komunikasi bukanlah disebabkan pada munculnya beberapa teori.bahkan teori tak lain adalah pembatasan alam fikir manusia.dengan demikian tak ada teori, yang ada hanyalah pemikiran.

  2. Terima kasih atas tanggapannya. Sebenarnya ada bermacam perspektif dalam memandang teori, bahkan dalam ranah filsafat. Di satu sisi teori dibedakan dengan realitas empiris, tapi perspektif terkini justru coba membumikan lagi teori (dan filsafat itu sendiri) ke dalam realitas empiris. Intinya teori mencoba menjadi praxis.

    Ilmu komunikasi sendiri awalnya berangkat dari asumsi yang memisahkan teori dari praxis. Ilmu komunikasi masih didominasi perspektif positivisme. Akan tetapi dengan perkembangan kajian komunikasi, ilmu komunikasi tidak lagi dilihat demikian, tapi lebih kepada bagaimana teori komunikasi yang menjadi praxis. Jadi, bukan sekedar pemikiran, dan bukan pula sekedar teori yang mengawang-awang dan tidak membumi. Demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s